Rabu, 21 April 2021

Jabatan?

Oleh: Ahmad Rofiq*)

SMOL.ID – Rasulullah Saw mengingatkan kita sebagai umat beliau, agar tidak terkena “serangan” penyakit waham, yaitu besar angan, cinta harta, dan tidak suka pada kematian atau takut mati.

Ketika umat sudah terkena serangan penyakit tersebut, maka ia dengan mudah menggadaikan iman dan dengan sangat mudah terjebak dalam prilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama, kehilangan rasa malu, dan dengan segala cara mempertahankannya.

Bahkan beliau menegaskan: “Janganlah kalian “meminta” jabatan, apabila kalian diberi jabatan karena meminta, maka akan terasa berat (pertanggungjawabannya), dan apabila kalian diberi (amanah) jabatan, tidak karena meminta, maka kalian akan ditolong (dimudahkan oleh Allah)” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).      

Para leluhur kita menasihati dan mengatakan : “Jadikan harta cukup di tanganmu saja, jangan di hatimu”.

Ini dimaksudkan, apabila kita hanya menempatkan harta cukup di tangan saja, maka kita akan dengan mudah memberi orang lain, mudah bershadaqah untuk kepentingan umum, dan mudah meletakkannya di tengah kesibukannya untuk beribadah kepada-Nya.

Namun apabila harta sudah sampai tersimpan dalam di lubuk hati, maka pasti akan terasa berat sekali untuk mengeluarkannya di jalan Allah, berat juga meninggalkannya saat adzan berkumandang.

Itulah sebabnya, banyak manusia terjangkit penyakit yang sangat berpotensi mematikan iman dan menghancurkan akidah, yakni “Hubbu d-dunya wa karahiyatu l-maut” (cinta berlebihan terhadap dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud).

Dalam versi lain, dinyatakan “Hubbu l-mal wa l-jah ra’su kulli khathi-ah” artinya “cinta harta dan jabatan adalah biang dari kekeliruan/kesalahan”.

Kecintaan seseorang pada jabatan – termasuk jabatan sosial di ormas, apalagi di Lembaga-lembaga resmi negara dan pemerintahan — dan segala fasilitasnya, sangat berpotensi dirinya akan mengabdikan dirinya itu demi jabatan.

Tidak jarang juga seseorang rela “merendahkan dirinya” dan lupa akan “marwah” organisasinya, dalam posisi apa sebenarnya ia diamanati pada jabatan itu.

Karena itu, mengutip Cak Nun (KH. Ainun Nadjib), “potensi kesombongan itu timbul karena jabatan, harta, dan ilmu”.

“Ketika rasa ‘ujub dan sum’ah sudah menghinggapi, maka kritik dianggap sebagai perlawanan, padahal sesungguhnya orang yang mengritik adalah bentuk masukan, bukan perlawanan, dan karenanya perlu direspon dengan baik, dan tidak perlu dibungkam”.

Tidak mudah memang, namun setidaknya, apabila kita masih ingat akan nasihat bijak ini, kita akan lebih berhati-hati.

Sebenarnya manusia mencintai harta itu adalah bagian dari tabiatnya. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wnaita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan binatang-binatang ternah dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembai yang baik (surga)” (QS. Ali ‘Imran (3): 14).

Para mufassir menafsirkan bahwa dijadikan tampak baik, mencintai hal-hal yang diinginkan, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan binatang-binatang ternah dari unta, sapi, dan kambing, dan sawah ladang untuk ditanami dan pertanian.

Yang demikian itulah bunga-bunga kehidupan dunia dan perhiasan yang fana. Allah lah sebaik-baik tempat kembali dan pemberi pahala, yakni surga.

Menariknya, adalah banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang memberikan warning kepada manusia, agar kekayaan itu tidak melalaikan kita dari berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Misalnya QS. al-Munafiqun (63), 9: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah melalaikan kamu harta-hartamu dan anak-anakmu dari ingat (berdzikir) kepada Allah, barang siapa mengerjakan yang demikian, maka mereka itulah orang-orang yang sesat”.

Alkisah, Khalifah ‘Umar ibn Abdul ‘Aziz ra cucu Sayyidina ‘Umar ibn al-Khaththab ra.  pada awal mendapat “wasiyat” dari Khalifah sebelumnya, menangis, dan menyatakan keberatannya, karena tidak dipilih oleh rakyat banyak.

Karena itu beliau mengembalikan, biar rakyat banyak yang memilihnya. Namun saat itu juga, karena rakyat sudah mengenal dan memahami rekam jejak beliau, rakyat secara aklamasi memilih beliau sebagai khalifah.

‘Umar bin Abdul ‘Aziz ini hampir setiap malam menangis sedu sedan. Ketika ditanya isteri beliau, “mengapa suamiku hampir setiap malam menangis?”  Beliau menjawab: “Saya takut nanti di akhirat akan dimintai peranggungjawaban rakyat yang hidup dalam kekurangan, baik dari anak-anak maupun para janda yang ditinggal mati suaminya.

Sementara mereka memohon kesaksian pada Rasulullah saw”.  ‘Umar ibn Abdul ‘Aziz (2 November 682 -4 Februari 720). Beliau adalah khalifah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun).

Meski masa kekuasaannya relatif singkat, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz merupakan salah satu khalifah yang paling dikenal dalam sejarah Islam. Dia dipandang sebagai sosok yang saleh dan kerap disebut sebagai khulafaur rasyidin kelima.

Kekayaannya pun dari awal dan selesai menjabat, mengalami penyusutan 90 persen. Sampai-sampai dalam kitab Tarikh Baghdad karya Al-Khathib al-Baghdady, disebutkan bahwa pakaian hingga akhir hayat beliau, hanya selembar yang dikenakan.

Ada sahabat beliau yang beberapa kali menjenguk, sempat “agak marah” dan menanyakan kepada isteri beliau, “kamu sebagai isteri bagaimana, pakaian suamimu tidak pernah ganti”. Istri beliau menjawab, “Demi Allah suami saya tidak mempunyai pakaian ganti, kecuali hanya yang dikenakannya itu”.

SubhanaLlah. Sampai fasilitas jabatan pun, keluarganya sama sekali tidak diperbolehkan menggunakannya. Karena fasilitas itu melekat pada jabatan, bukan keluarganya.  

Karena itu, “berbahagia” dan “waspadalah” Anda yang “dikaruniai dan sekaligus diuji” dengan jabatan, karena dapat dipastikan pertanggungjawabannya lebih berat, dibanding yang tidak menjabat.

Karena itu, pada umumnya, seorang Ulama, ketika diberi jabatan, mereka tidak mau menerima, dan juga tidak bersyukur, akan tetapi membaca tarji’, innaa liLlaahi wa innaa ilaihi raaji’uun artinya “Sesungguhnya kita ini hanya milik Allah, dan sesungguhnya kita kepada Allah akan kembali”.

Ini dimaksudkan  agar para pejabat, jalankan jabatan itu sebagai amanat dan laksanakan secara adil. Karena adil itu, dekat kepada taqwa.

Dan taqwa itu adalah satu-satunya bekal paling berharga menghadap Allah ‘Azza wa Jalla. In uriidu illaa l-ishlaah maa istatha’tu wa maa taufiiqii illaa biLlaah. Allah a’lam bi sh-shawab. (aa/smol)

*) Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Guru Besar UIN Walisongo, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA