Beranda News Semarang Pandemi, Fashion Tetap Eksis

Pandemi, Fashion Tetap Eksis

0
Pandemi, Fashion Tetap Eksis

foto-foto : Tia Chasmani (aa)

SMOL.ID – SEMARANG – Pandemi telah berlangsung setahun lebih. Fesyen sebagai salah satu industri yang terkena imbasnya, harus terus bertahan dan berinovasi supaya bisa terus eksis.

Namun bagaimana caranya sebagai pelaku fesyen, baik sebagai desainer maupun pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) mensiasati penjualan selama masa pandemi?

Menghadapi kebutuhan tersebut, Dinas Perindustrian Kota Semarang menghadirkan Talk Show & Fashion Show “Fashion Eksis Dimasa Pandemi”, yang digelar pada Selasa (6/4) lalu di Galeri Industri Kreatif Semarang.

Acara yang didukung Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang tersebut menghadirkan Ali Charisma (National Chairman IFC), Mustohar (Kepala Dinas Perindustrian Kota Semarang), Dedi Mulyadi (Ketua APINDO Kota Semarang) dan Agung Trianto N (Bidang Infrastruktur & Teknologi Komite Ekonomi Kreatif Semarang) sebagai pembicara.

Fesyen show-nya sendiri menampilkan 40 karya dari 20 desainer. Yakni Mayo Hijab dan Kholisa dari IPEMI, Sheva, Indrayani, christine dan Sheika dari UNNES, Astrid dan Chinta dari CMC, Nova dan Baliem dari BENIK Semarang, Roedi, Miss Ayoe dan Hany dari SIF, Ummu, Dini, Chandra, Agustine dan Taufik dari IFC Semarang Community, serta Eka, Hesti, Indri dan Agied dari IFC Semarang.

Salah satu hal yang dibahas dalam talk show adalah pelaku fesyen yang menggeluti dunia digital, yakni berjualan secara daring.

Menurut Agung Trianto, faktor yang menentukan ‘keberhasilan’ berjualan online atau daring selain ‘branding’ adalah memperhatikan estetika konten. Maksudnya, tampilan dari sosial media, marketplace hingga website e-commerce harus bagus, sehingga orang tertarik untuk membeli.

“Jangan sampai produk aslinya bagus, tapi foto tidak mendukung sehingga produk tidak terlihat sebagus aslinya. Yang tidak kalah penting juga, deskripsi produk harus jelas dan detail, dan ada integrasi (link) antara website toko dengan akun sosial medianya,” jelas Agung.

Bagaimana dari segi fesyen itu sendiri? Ali Charisma menjelaskan, bahwa pandemi mengubah gaya hidup masyarakat, salah satunya adalah olahraga. Orang yang tadinya jarang atau tidak pernah berolahraga, jadi berolahraga.

Saat ini hingga kedepannya tren sportwear memiliki peluang besar, baik hijab dan non hijab. “Sporty itu bukan cuma pakaian untuk berolahraga, tapi juga acuan gaya berpakaian yang ‘sporty’; nyaman dan gampang dikenakan untuk beraktivitas seharian,” terangnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, yang harus dilakukan para desainer atau pemilik brand adalah menilik stok yang sudah ada, mana yang bisa didaur ulang, diubah atau modifikasi sesuai trend dan permintaan pasar, mana yang tidak bisa didaur ulang dan mana yang bisa didonasikan, sehingga tidak menjadi barang yang ‘menumpuk’ di toko atau gudang. (Tia Chasmani/aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here