Beranda News Jateng - DIY Minyak Atsiri Resmi Digunakan Perawatan Batu Candi Borobudur

Minyak Atsiri Resmi Digunakan Perawatan Batu Candi Borobudur

0
Minyak Atsiri Resmi Digunakan Perawatan Batu Candi Borobudur
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Hilmar Farid menyemprotkan minyak atsiri dari tanaman serai wangi pada peresmian minyak tersebut sebagai bahan konservasi untuk perawatan batuan Candi Borobudur. (ANTARA/Anis Efizudin)

SMOL.ID, MAGELANG – Minyak atsiri dari tanaman serai wangi diresmikan sebagai bahan konservasi perawatan batuan Candi Borobudur. Minyak astiri disemprotkan ke batuan candi agar terbebas dari lumut.

Dalam peresmian itu, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid sempat menyemprotkan minyak atsiri ke batuan candi.

Menurut Hilmar Farid minyak atsiri fungsinya untuk pelestarian, melindungi candi dari lumut yang memang banyak tumbuh di Candi Borobudur.

“Dengan cairan ini bisa menghilangkan lumut itu. Ini salah satu inovasi penting dari Balai Konservasi Borobudur yang selama 3 tahun melakukan riset mengembangkan teknologi ini dan sekarang sudah cukup mantap, karena sudah diuji di batu lepas dan sekarang bisa diaplikasikan di batu candi,” katanya, Kamis (8/4/2021).

Minyak Atsiri adalah minyak organik. Penggunaan bahan yang sifatnya organik ini jauh lebih aman, ramah pada lingkungan. Berbeda dengan penggunaan bahan kimia akan berisiko terpapar.

“Keuntungan yang pasti itu. Kemudian dari segi harga lebih hemat, karena minyak atsiri ini tidak tumbuh di laboratorium, tetapi tumbuhnya di masyarakat. Jadi kalau misalnya harus keluar biaya untuk itu nanti yang merasakan masyarakat,” katanya.

Dengan digunakan atsiri sebagai bahan untuk menyemprot batuan candi, maka masyarakat sekitar bisa menanam tanaman itu. Pengolahannya juga bisa dilakukan oleh masyarakat, dan pemerintah yang memanfaatkan.

“Saya memandangnya sebagai ekosistem perlindungan cagar budaya yang sangat efektif. Candi ini besar sekali dan kita punya banyak sekali candi di Indonesia dan semua punya problem kurang lebih serupa dan akan memerlukan teknologi ini juga,” katanya.

Minyak atsiri digunakan untuk pemeliharaan Borobudur dimulai yang ada di bawah Kemendikbud, tetapi tidak menutup kemungkinan situs-situs di bawah penguasaan pemerintah daerah untuk menggunakannya.

“Kalau batuan di luar negeri seperti Angkor Wat, juga punya problem yang sama. Jadi mungkin ini nanti menjadi inovasi yang bisa kita ekspor, bukan mencari duitnya tetapi ini justru untuk memperlihatkan dari Borobudur ini lahir begitu banyak inovasi,” katanya.

Perawatan batuan Candi Borobudur pada saat pemugaran kedua (1973-1983) dan setelah pemugaran menggunakan bahan kimia. Kemudian dalam perkembangannya pada kurang lebih sepuluh tahun terakhir UNESCO merekomendasikan penggunaan bahan-bahan alami untuk perawatan batuan candi.

Hal tersebut kemudian menjadi cambuk bagi Balai Konservasi Borobudur sebagai site manager Warisan Dunia Candi Borobudur untuk melakukan kajian dan pengembangan metode konservasi dengan menggunakan bahan alami seperti minyak atsiri tersebut. (lin/smol/ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here