Kamis, 13 Mei 2021

Tiap Tahun Peran Perempuan Semakin Meningkat

SMOL.ID – SEMARANG – Tiap tahun peran perempuan semakin meningkat. Contohnya, banyak perempuan yang menjadi kepala daerah, baik itu bupati/wali kota maupun wakilnya, belum lagi yang menjadi anggota legislatif di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat.

Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Sri Ruwiyati SE MM. (aa)

Hal itu ditegaskan Sekretaris Komisi E DPRD Jateng Sri Ruwiyati SE MM saat tampil sebagai pembicara dalam Prime Topic Kepemimpinan Perempuan Era Modern, Senin (19/4/21) di Diamond Ballroom Hotel Pesonna Jl Depok 17 Semarang. Selain Sri Ruwiyati, pembicara lain adalah Sri Dewi Indrajati, Kepala Bidang KHPp mewakili kepala DP3AP2KB Provinsi Jateng, dan Guru Besar Antropologi Unnes Semarang Prof Tri Marhaeni Pudji Astuti.

Untuk diketahui, Komisi E di DPRD Jateng adalah komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat. Meliputi ketenagakerjaan, pendidikan, ilmu pengetahuan, penelitian dan pengembangan tehnologi, kepemudaan dan olahraga, keagamaan, kebudayaan, sosial, kesehatan, transmigrasi, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan pengendalian penduduk.

”Kesempatan perempuan di posisi tertentu di sektor politik dan publik sudah semakin terbuka. Namun semua belum dimanfaatkan secara maksimal karena adanya sejumlah kendala. Namun demikian kondisi saat ini sudah sangat menggembirakan. Sebab, sejak perjuangan Ibu RA Kartini hingga saat ini, peran perempuan di sejumlah bidang kehidupan sudah semakin meningkat,” katanya.

Lebih jauh Sri Ruwiyati menambahkan dari 120 anggota DPRD Provinsi Jateng, misalnya, sudah ada 19% keterwakilan perempuan. Angka itu cukup membanggakan.

”Namun semua ini masih berproses, sebab masih ada budaya lama yang terpatri di perempuan Indonesia sejak era RA Kartini. Di mana kaum perempuan belum sepenuhnya setara dengan kaum laki-laki. Meski demikian, tiap tahun kaum perempuan di Jawa Tengah sudah banyak memberikan prestasi yang membanggakan.”

Menurut dia, pemerintah sudah memberikan kesempatan yang sama antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Undang-undangnya juga sudah ada. Untuk itu dia mengimbau agar kaum perempuan tidak perlu takut lagi, dan jangan lemah karena sudah memiliki hak dan tanggungjawab yang sama dengan kaum laki-laki.

Sri Dewi Indrajati, Kepala Bidang KHPp pada DP3AP2KB Provinsi Jateng menyatakan, hingga saat ini belum semua perempuan dapat menangkap kesempatan kesetaraan gender yang sudah diberikan oleh pemerintah.

”Sebagian besar perempuan juga belum siap,” ujarnya.

Terkait dengan pemberdayaan perempuan untuk menyelesaikan sedikit demi sedikit permasalahan, salah satu strategi pemerintah adalah dengan menyamaratakan atau kesetaraan gender. Dan itu dimulai dari keluarga, sejak anak-anak.

”Keadilan kesetaraan gender dibangun juga untuk laki-laki dengan harus menghormati kaum perempuan baik di lingkungan keluarga maupun sekolah dan masyarakat. Maka kebijakan-kebijakan kami mengarah ke sana. Selain tentu membangun nilai-nilai baru bahwa setiap perempuan punya potensi masing-masing yang harus diolah dan beri kesempatan untuk maju.”

Pendidikan kecerdasan bukan hanya untuk menjadi kader partai politik, namun lebih dari itu memiliki jiwa yang cerdas itu lebih penting.

Sementara itu Prof Tri Marhaeni Pudji Astuti menyatakan perempuan punya pengalaman hidup yang berbeda dengan kaum laki-laki. Hal itu disebabkan sosialisasi yang berbeda, internalisasi yang berbeda dan itu mengakibatkan keberanian masing-masing di masyarakat.

”Misalnya, bekerja di bidang publik, politik, profesional, berani berpendapat juga tergantung sosialisasi dari orang tua di masa kecil. Perempuan juga punya guilty feeling jika melakukan hal yang tidak sesuai dengan norma sosial budaya. Quilty feeling lebih gede daripada rasionalitasnya. Hal itu merupakan faktor internal penyebab belum beraninya perempuan di depan publik,” jelasnya.

Menurut dia, saat ini ada dekonstruksi tentang peran perempuan. Yang semula dianggap hanya pekerja di dapur, sekarang di zaman covid perempuan banyak yang menjadi penyelamat ekonomi rumah tangga. Antara lain perempuan lebih luwes berjualan secara online, dll.

”Nanti akan terjadi pergeseran teori bahwa perempuan bukan lagi sosok yang lemah. Seiring berjalannya waktu, teknologi, iklim dll. Seperti pasangan milenial saat ini, persoalan masak bisa gofood. Tidak ada yang antar bisa nge-grab, dll. Namun akan jadi benturan apabila berhadapan dengan generasi lama. Seperti apabila perempuan tidak memasak nanti dianggap kualat dsb. Harapannya nanti akan terjadi perubahan teori yang lebih baik. Namun perubahan itu dengan pendidikan, sebab pendidikan memiliki peran yang sangat penting di segala lini kehidupan.” (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA