Selasa, 22 Juni 2021

Perempuan dan Pembelajaran Ramadhan di Tengah Pandemi

Oleh: Dr Muslihati SAg MlPd

SMOL.ID – Kalau ditanya siapakah anggota keluarga yang kemungkinan paling sibuk di bulan puasa, jawabannya adalah ibu.

Tradisi peran perempuan dalam mengkhidmat pada keluarga menghadirkan tantangan tersendiri bagi para ibu di Bulan Suci Ramadhan.

Mulai dari menyiapkan menu sahur dan buka puasa, membangunkan anggota keluarga di waktu sahur, merancang aneka hantaran untuk kerabat dan kolega, hingga memikirkan beragam detail persiapan menyambut hari raya.

Seorang perempuan sangat menginginkan suami dan anak-anaknya bersantap dengan lahap baik ketika berbuka puasa lebih-lebih saat makan sahur.

Kehebohan akan bertambah ketika hari raya akan tiba. Kemampuan perempuan dalam berpikir rinci mendorongnya untuk merancang banyak hal mulai dari warna dan model busana lebaran, parcel dan bingkisan untuk ayah ibu mertua dan kerebat, kue hantaran untuk tetangga hingga hidangan hari raya.

Jika tidak sesuai harapan, akan muncul rasa kecewa. Terkadang yang menjadi sebabnya adalah kekhawatiran akan penilaian orang lain yang dihubungkan dengan posisi dirinya hingga status sosial.

Perempuan memang diciptakan istimewa. Allah SWT menganugerahi perempuan kemampuan bekerja multi tasking di mana beragam aktivitas dapat dilakukan dalam waktu hampir bersamaan. Memasak sambil mengasuh anak, ditambah menjawab pesan wa dan email, bahkan sambil merapikan meja untuk persiapan berbuka puasa.

Perempuan juga mampu mengolah bahan makanan sederhana seperti tempe menjadi aneka menu dengan rasa dan tampilan berbeda; mulai tempe goreng, orek tempe, tempe bacem, orem-orem hingga sambal goreng.

Merujuk pada ulasan Prof Said Agil Siradj, perempuan kian istimewa karena salah satu organ penting dalam sistem reproduksinya berupa rahim diberi nama sebagai turunan dari salah satu asma Allah, Arrahim.

Hal ini menjadi bukti bahwa perempuan disiapkan untuk mengasihi calon penerus yang dianugerahkan Allah melalui kandungannya.

Dengan potensi penuh kasih itu pula seorang ibu diharapkan mendidik keluarga bersama dengan suami sebagai imamnya.

Di masa pandemi covid-19, kemampuan multitasking dan kasih perempuan semakin ditantang. Betapa tidak, ketika bekerja dan belajar dilakukan dari rumah, terlebih ketika Ramadhan tiba, maka kesibukan yang terjadi akan sangat kompleks.

Belum lagi menghadapi kekhawatiran akan ancaman bahaya paparan covid-19 yang masih membayangi. Perempuan dalam hal ini ibu ditantang untuk selalu sigap mendidik keluarga agar disiplin terhadap protokol kesehatan, terutama ketika memasuki bulan Ramadhan.

Tahun ini adalah Ramadhan kedua di masa pandemi Covid-19. Tahun lalu untuk pertama kali kita melewati Ramadhan dan Idul Fitri di tengah pembatasan dan kekhawatiran.

Rasa sedih, takut bahkan nelangsa dialami banyak orang kala itu, sehingga pada Ramadhan 1441 H, sebagian masyarakat memilih menulaikan sholat tarawih bahkan sholat Id hanya bersama keluarga inti, di rumah saja, sembari berharap tahun depan pandemi akan berlalu.

Memasuki 2021, ternyata pandemi belum juga usai, meski angka positif covid-19 disebutkan telah melandai. Rasa optimispun mulai menguat ketika vaksinasi masif mulai dilakukan pada awal 2021.

Walaupun vaksinasi belum menyentuh semua lapisan masyarakat namun rasa takut dan khawatir tidaklah sebesar dulu. Menguatnya rasa optimistis mungkin dikarenakan masyarakat sudah terbiasa dengan pola hidup baru; berdamai dengan covid-19. Kebiasaan baru ini pula yang nampaknya memberi warna pada Ramadhan tahun ini.

Masyarakat mulai kembali beribadah di musholla dan masjid terdekat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, bermasker dan menjaga jarak.
Betapapun prihatin Ramadhan di masa pandemi, sejatinya peristiwa ini memberikan pelajaran psikologis bagi semua manusia, terutama perempuan.

Ketika awal masa pandemi, para ibu berlingsatan memikirkan bagaimana mendampingi putra putrinya belajar daring di rumah. Beragam problem membuat banyak Ibu mengeluh stress dan tak jarang memunculkan konflik pengasuhan. Puluhan meme jenaka dan satir muncul mengiringi cerita unik pembelajaran daring, bahkan sebagian bernada protes pada sekolah.

Sistem pendidikan formal melalui sekolah telah “meringankan” peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Muncul pemikiran salah kaprah dimana pendidikan anak dipasrahkan pada sekolah, seolah pendidikan anak terpisah dengan pengasuhan dan pendidikan, dan gurulah yang lebih bertanggung jawab pada pembentukan karakter dan kompetensi anak dibanding orang tua, tentu pemikiran yang keliru.

Pandemi Covid-19 membalikkan keadaan dan memaksa orang tua untuk ikut mendampingi proses belajar anak, menjalankan peran yang selama ini dialihkan pada guru. Bayangkan betapa sibuknya Ibu dalam memainkan dua peran sekaligus, peran domestik dan tugas mendampingi anak belajar, belum lagi jika sang Ibu adalah perempuan pekerja. Semua tantangan itu tentu akan lebih ringan jika suami hadir menjadi partner yang sigap, cerdas, empatik dan penuh kasih dalam berbagi peran.

Ramadhan merupakan momen penting bagi perempuan untuk menguatkan berbagai dimensi diri, terutama meneguhkan spiritualitas dan tali kasih diantara anggota keluarga.

Perjuangan perempuan dalam menjalan berbagai peran terkadang menghadirkan keluhan, tekanan psikologis hingga konflik antar anggota keluarga, apalagi jika kondisi tersebut diperparah dengan tuntutan dan desakan kebutuhan finansial, gaya hidup yang cenderung bersifat konsumtif karena dorongan keinginan, bukan kebutuhan.

Terlebih bagi sebagian ibu-ibu muda milenial yang akrab dengan sosial media dimana tolok kebahagiaan ditentukan oleh tampilan di status media. Belum lagi rayuan diskon besar-besar di berbagai lapak online yang ditawarkan menjelang hari raya. Kondisi ini semakin meningkatkan potensi problem psikologis perempuan.

Tidak heran jika seorang kawan menyebutkan bahwa perempuan menikah berpotensi cenderung lebih mudah stress dibanding perempuan lajang.

Tentu tidak mudah menghadapi kondisi yang kompleks. Untuk menghadapi semua tantangan hidup perempuan memerlukan adversitas atau ketangguhan, resiliensi atau ketahanmalangan dan passionate atau kasih sayang agar perempuan mampu untuk menjalani hidup dengan bahagia.

Ramadhan yang mulia dan agung memiliki keistimewaan untuk menghadirkan semua modalitas hidup tersebut. Para ibu tentu jangan sampai melewatkan momen Ramadhan tanpa meneguk rahmat dan barokah.
Ramadhan akan menjadi wahana edukasi atau sekolah kehidupan spiritualitas bagi perempuan untuk mengasah adversitas, resiliensi dan passionate.

Ibadah puasa, aktivitas kolaboratif bersama suami dalam berkhidmat melayani kebutuhan anggota keluarga yang berpuasa, kemauan menjadi teladan dan role model kesabaran, pengendalian diri, dan tanggung jawab dalam menjalankan puasa, membayar zakat dan berempati pada orang lain adalah wahana penguatan semua modalitas kualitas mental bagi perempuan, khususnya para Ibu, madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya.

Melalui didikan Ramadhan diharapkan perempuan akan lebih bijak dalam mengendalikan dorongan konsumtif jika kondisi finansial tidak memungkinkan.

Secara psikologis, Ramadhan melatih minset atau pola pikir dan kemampuan pengendalian diri (self-control) sehingga perempuan dan semua anggota keluarga memiliki karakter disiplin, mandiri, berperilaku terarah dan optimis serta memiliki tujuan hidup.

Karakter tersebut akan dilatih melalui pemahaman dan internalisasi esensi puasa yaitu mengekang diri dari dorongan hawa nafsu dan perilaku yang tidak baik diserap dan diterapkan.

Pengendalian diri begitu penting bagi siapapun khususnya perempuan. William Glasser pencetus teori Terapi Realitas menegaskan bahwa seseorang yang mampu melakukan pengendalian diri dengan baik berarti telah mampu berpikir matang karena dapat memikirkan konsekuensi yang ketika memilih atau melakukan suatu tindakan, mampu melakukan melakukan percakapan batin (self-talk) dan berdebat dengan diri sendiri mengenai hal baik dan buruk.

Secara umum pengendalian diri menjadikan pribadi yang bertanggungjawab dan positif. Betapa indahnya ajaran Islam yang mendidik umatnya melalui latihan pengendalian diri selama puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, sebuah durasi ideal bagi melatih kebiasaan kendali diri seseorang.

Pengendalian diri akan membuat perempuan menjadi bijak menentukan tindakan apapun, termasuk ketika mentasarrufkan rizki untuk kepentingan yang tidak penting, apalagi sekedar gaya hidup yang besar pasak dari pada tiang demi status di sosial media dan komentar teman.

Proses selama Ramadhan diharapkan membentuk ketangguhan spiritual perempuan secara hakiki. (aa/smol)

*)Dr Muslihati, SAg MPd
Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA