Kamis, 13 Mei 2021

Membangun Spirit Berinteraksi dengan Al-Quran

Oleh: H. Samsudin, S.Ag.M.Ag*)

SMOL.ID – Bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung. Salah satu keagungannya adalah peristiwa Nuzul Al-Quran terjadi di bulan itu. Nuzul al-Quran mempunyai makna sangat signifikan bagi umat Islam, selain sebagai kitab petunjuk yang menuntun umat manusia menuju ke jalan yang benar, al-Quran juga berfungsi sebagai pemberi penjelasan terhadap segala sesuatu dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Keindahan bahasa Al-Qur’an, kedalaman maknanya serta keragaman temanya, membuat pesan-pesannya tidak pernah berkurang, apalagi habis, meski telah dikaji dari berbagai aspeknya. Kandungannya seakan tak lekang disengat panas dan tak lapuk dimakan hujan. Karena itu, upaya menghadirkan pesan-pesan Al-Qur’an dan upaya memelihara otentisitasnya melalui aktivitas menghafal Al-Qur’an merupakan proses yang tidak pernah berakhir selama manusia hadir di muka bumi.

Pada zaman dahulu, para sahabat merupakan representasi orang yang sangat mencintai Al-Qur’an. Dengan penuh suka cita, mereka menampakkan spirit yang menggelora untuk menyimak pesan-pesan al-Quran yang disampaikan kepada mereka.

Setiap untaian ayat al-Quran yang disampaikan Nabi Muhammad saw, tak ubahnya seperti hadiah yang teramat berharga bagi dirinya. Maka bukan hal aneh, jika banyak sahabat yang menyempatkan waktu untuk membaca, merenungi, menghafal serta mengimplementasikan isi kandungan maknanya.

Begitu pun dengan para tabiin dan tabiit tabiin, keberhasilan para pendahulu saleh dalam menciptakan harmoni antara kehidupan material dengan kehidupan spiritual sangat dipengaruhi oleh orientasi hidup dimana mereka meletakkan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhir; mereka membaca al-Quran, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian dari yang telah Allah anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi atau terang-terangan. Mereka adalah para pialang akhirat.

Kesinambungan membangun Interaksi dengan al-Quran telah terbukti membawa kehidupan berlimpah rahmat dan keberkahan. Sementara kontinuitas interaksi dengan al-Quran dapat diaktualisasikan, apabila umat Islam memiliki kesadaran transendensi yang kuat dalam berinteraksi dengan al-Quran. Kesadaran transendensi dimaksud bukanlah sekedar memenuhi pesan agama tanpa dibarengi penghayatan yang mendalam, misalnya dari membaca verbal (tilawah al-Quran) menuju membaca penuh pemahaman dan kesadaran.

Hal ini sangat relevan dengan hadits Nabi saw:
“Perumpamaan seorang mukmin yang suka membaca Al-Qur’an seperti buah Utrujjah, baunya harum dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak suka membaca Al-Qur’an seperti buah kurma, tidak berbau namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang suka membaca Al-Qur’an seperti buah raihanah, baunya harum tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak suka membaca Al Qur’an seperti buah hanzhalah, tidak berbau dan rasanya pahit”. (HR. Muslim)

Hadits diatas memberikan pesan kuat bahwa membaca al-Quran dengan penghayatan yang mendalam akan mempengaruhi kualitas kepribadian seseorang, sehingga semakin sering membaca al-Quran dengan penuh pemahaman, akan semakin terasa nyata al-Quran menjadi ruh di dalam kehidupannya.

Interaksi 5 T
Berinteraksi dengan al-Qur’an merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslim. Bentuk interaksi itu dapat berupa 5 T. Pertama Tilawah, artinya membaca al-Quran dengan dengan memperhatikan kaidah bacaannya.

Sebagaimana termaktub dalam surah Al-Isra [17] ayat 82 bahwa al-Quran diturunkan Allah SWT untuk menjadi obat segala macam penyakit kejiwaan. Sehingga keutamaan membaca al-Quran akan mendapatkan ketenangan jiwa.

Sebagai upaya meningkatkan penghayatan terhadap tilawah al-Quran, target membaca al-Quran, terutama pada bulan Ramadhan, tidak sekadar mengkhatamkan bacaan al-Quran dari surah al-Fatihah hingga surah an-Nas, tapi diupayakan dibarengi dengan proses kognisi (pemahaman), afeksi (penyadaran dan penghayatan), dan psikomotorik (aktualisasi dan pengamalan). Sehingga implikasinya, makna yang terkandung dalam al-Quran dapat diimplementasikan dalam kehidupan.

Kedua, Tadabbur. Artinya menggunakan ketajaman mata hati lewat proses perenungan mendalam secara berulang-ulang agar dapat menangkap pesan-pesan al-Quran yang terdalam dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh. Aktivitas tadabbur al-Quran dimaksudkan untuk mengambil manfaat dan mengikuti apa yang terkandung dalam al-Quran, sehingga tidak ada kontradiksi antara al-Quran dan hati, tidak ada pula pertentangan antara al-Quran dengan kehidupan nyata.

Ketiga, Tahfizh. Artinya menghafal Al-Qur’an baik dengan cara  membaca maupun mendengarkannya secara berulang-ulang sampai hafal sehingga setiap ayat mampu dibaca tanpa melihat mushaf. Menghafal Al-Qur’an sebagai bentuk menjaga sepenuh jiwa dan raga amalan dalam Al-Qur’an. Apalagi dalam sholat, umat Islam diwajibkan untuk membaca surah pendek atau surah lain selain Al-Fatihah. Untuk itu, menghafal dan membaca Al-Qur’an adalah bagian penting dari kehidupan seorang muslim dan muslimah.

Keempat, Tathbiq, artinya mengamalkan pesan-pesan al-Quran dalam kehidupan. Menerapkan nilai-nilai al-Quran dalam setiap aspek kehidupan. Dalam pengertian yang lebih luas tathbiq bermakna membangkitkan semangat untuk mengamalkan dan membumikan Al Quran baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negara.

Kelima, Tabligh, artinya menyampaikan pesan-pesan yang tertulis dalam al-Quran kepada umat manusia. Ajakan atau seruan untuk mengenalkan isi dan kandungan a-Quran dimaksudkan agar manusia memperoleh kebahagiaan dunia akhirat. Landasan normative aktivitas tablig adalah perintah Allah SWT dalam al-Quran.

Misalnya, surah al-Maidah ayat 67, yang artinya, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan ( apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Secara prinsipal. panggilan tabligh menjadi tanggung jawab setiap Muslim. Ini sejalan dengan perintah Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, at-Tirmizi dan Ahmad dari Ibnu Amr. Yakni, “Sampaikan (tabligh)-lah olehmu apa yang kalian peroleh dari aku meski hanya satu ayat.”

Fenomena Rumah Tahfizh

Seiring dengan dinamika kehidupan, upaya membangun interaksi dengan al-Quran tak lagi dibatasi dengan ruang dan waktu. Dahulu untuk menjadi seorang penghafal al-Quran, seseorang harus datang ke pesantren untuk mengikuti pembelajaran tahfizh.

Kini di Indonesia, telah ada rumah-rumah tahfidz berdiri di Indonesia. Selain berbentuk pondok-pondok kecil yang disulap dari berbagai bangunan sederhana, rumah kontrakan, rumah pribadi, kini tumbuh dengan berbagai macam model hampir di seluruh kota-kota besar, seiring dengan tumbuhnya kaum muslim urban.

Pondok-pondok itu menamatkan bermacam penghapal al-Quran dari latar keluarga dan pendidikan. Tidak seperti pesantren klasik pada umumnya yang mengharuskan santrinya untuk terlebih dahulu mempelajari ilmu alat, bahasa Arab atau ilmu-ilmu terkait pendalaman pemahaman Alquran, pondok-pondok model baru ini menerima santri dari berlatar keluarga dan pendidikan yang hampir kesemuanya tidak mengenal bahasa Arab.

Namun ada fenomena rumah tahfizh yang cukup unik ditengah merebaknya spirit berinteraksi dengan al-Quran, yaitu rumah tahfizh yang didirikan di lembaga kesehatan yaitu rumah sakit.

RSI Sultan Agung adalah rumah sakit syariah pertama yang menyelenggarakan pembelajaran tahfizh Al-Quran bagi pegawainya. Proses pembelajaran tahfizh Al-Quran dipusatkan di Rumah Tahfizh Darus Syifa’ RSI Sultan Agung Semarang.

Pembelajaran tahfizh sebenarnya telah berlangsung 5 tahun. Pada tahun 2021 program menghafal Al-Quran telah melahirkan 73 huffazh pegawai yang telah merampungkan hafalannya. Untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa Pelayanan kesehatan, lahirnya para hafizh dalam jumlah yang tidak kecil dari kalangan pegawai tentu menjadi prestasi yang patut diapresiasi.

Seiring dengan dioperasinalkannya RSI Sultan Agung Banjarbaru pada 31 Maret 2021, tak perlu menunggu waktu lama, launching Rumah Tahfizh Darus Syifa’ dilaksanakan pada 29 April 2021. Keberadaan Rumah Tahfizh Darus Syifa’ boleh jadi merupakan Rumah Tahfizh pertama yang didirikan di rumah sakit di Kalimantan.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, kehadiran para hafizh di RSI Sultan Agung memberikan dampak dan implikasi positif terhadap kinerja pegawai.

*)H. Samsudin, S.Ag.M.Ag, Dosen FAI Unissula.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA