Kamis, 13 Mei 2021

Belajar “Marwah” dari Habermas dan Gazali


Oleh: Ahmad Rofiq*)

SMOL.ID – Pagi-pagi 23 Ramadhan 1442 H, dapat postingan di WhatsApp group FSH UIN Walisongo, ada artikel dengan headline “Alasan Situasi HAM, Filosuf Jerman Habermas Tolak Penghargaan Buku dari Emirat”.  

Tulisan tersebut dimuat di laman m.dw.com (5/5/2021).

Bagi saya, ini menarik, karena Habermas – lengkapnya Jurgen Habermas menolak penghargaan buku dari Uni Emirat Arab (UEA). Padahal sosiolog dan filosuf terkemuka Jerman (91 th) itu sedianya akan menerima Penghargaan Bergengsi Sheikh Zayed Award bulan depan, 23 Mei 2021, sebesar 1 juta dirham (setara Rp 4 Miliar).

Alasannya, dia mengaku tidak cukup membaca dan mencari informasi tentang institusi yang memberikan penghargaan itu di Abu Dhabi, yang sangat dekat dengan penguasa (ibid).

Sebagai manusia biasa, Habermas, sebenarnya sudah berniat mau hadir dan menerima Sheikh Zayed Award tersebut. Namun karena kritik cerdas dan halus dari Der Spiegel yang mempertanyakan idealisme Habermas yang selalu menyuarakan kebebasan berpendapat.

Ini menurut Der Spiegel bertolak belakang dengan sikapnya dianggapnya tidak kritis lagi terhadap kondisi Abu Dhabi (Ibid).

Inilah harga sebuah “reputasi” yang Habermas jaga dengan sangat baik, sebagai kritikus demokrasi, dan gagasan rasionalisasi komunikatif, wacana etika, demokrasi liberative, pragmatic universal, Tindakan komunikatif, dan ruang publiknya, akhirnya ia menarik diri dan menolak Sheikh Zayed Award tersebut.

Bagaimana dengan saya dan Anda?

Filosuf kelahiran Dusseldorf, 18 Juni 1929 ini, banyak buku-bukunya diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab.

Habermas dibesarkan di Kota Gummersbach, kota kecil dekat dengan Dusseldorf. Ketika ia memasuki masa remaja di akhir Perang Dunia II, ia baru menyadari bersama bangsanya akan kejahatan rezim nasional-sosialis di bawah kepemimpinan Adolf Hitler.

Mungkin hal ini yang mendorong pemikiran Habermas tentang pentingnya demokrasi di negaranya. Kepada mahasiswa pun, ia mengritik dengan pedas. Aksi-aksi mahasiswa yang menggunakan kekerasan, anarkhis, dan menggunakan kekerasan. Ia anggap sebagai “revolusi palsu” bentuk-bentuk pemerasan yang diulang kembali, dan counterproductive atau kontra-produktif (https://id.wikipedia.org/wiki/J%C3%BCrgen_Habermas).     

Jurgen Habermas dikenal dengan teori kritisnya. Menurutnya, teori kritis bukanlah teori ilmiah, yang biasa dikenal di kalangan publik akademis dalam masyarakat kita. Jurgen Habermas menggambarkan teori kritis sebagai suatu metodologi yang berdiri di dalam ketegangan dialektis antara filsafat dan ilmu pengetahuan (sosiologi). Teori kritis tidak hanya berhenti pada fakta-fakta objektif, yang umumnya dianut oleh aliran positivistik.

Masih ada yang lainnya?
Dalam suratnya itu, Effendi Gazali menyampaikan empat alasan ilmiah kenapa dia mengambalikan SK guru besar. Pertama, menurutnya, dia sedang membongkar beberapa skema merugikan negara yang begitu besar.

Dia tidak tahu fitnah atau hoax apa yang masih akan terarah pada dia (Tribunnews.com, 25/4/2021). Kedua, jika dia masih guru besar, demi Tridharma, dia tetap harus meneriakkan skema tersebut.
Sementara dia juga harus mengukur diri dan perlindungan karena kekuatan mereka sampai mampu mengalahkan kebebasan berpendapat. Ketiga, ia merasa gagal mengajar jurnalisme dan komunikasi.

Dia dikepung puluhan berita/media yang memuat BAP (Berita Acara Pemeriksaan) palsu atau terperiksanya bohong. Keempat, ia mengutip statemen Ilham Bintang Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat pernah berkontemplasi dan mengatakan: “…100 tahun pun belum tentu kita bisa memperbaiki pers Indonesia…”.

Kepada dua orang itu, saya sama sekali tidak kenal, kecuali melalui beberapa tulisan dan statemennya, tetapi ada pelajaran yang sangat berharga menurut saya. Di tengah arus besar pragmatism untuk mendapatkan jabatan, termasuk guru besar, sehingga rela melakukan berbagai cara, termasuk mungkin plagiasi di satu sisi, dan di sisi lain memperjuangkan kebenaran dan demokrasi yang sesungguhnya, dan harus berbasis keadilan dan kejujuran laksana menggenggam bara api, seperti halnya juga menyampaikan ajaran agama yang rahmatan lil alamin, kita menemukan sosok yang memiliki komitmen sangat tinggi.

Saya, Anda, dan mungkin kita, rasanya hingga kita berpuasa di hari ke-23 Ramadhan 1442 H ini, bisa bersama-sama mengambil pelajaran berharga mereka berdua tentang bagaimana “marwah” diri, dan “keistiqamahan” dalam berjihad menyampaikan keadilan dan kebenaran.

Karena Ketika keadilan, kejujuran, dan kebenaran bisa berjalan dalam berbagai satuan sosial kita, maka itu artinya, kita sudah berusaha ikut mengurangi kedzaliman itu terjadi, yang siap menggusur atau mengiris saudara sendiri. Allah a’lam bi sh-shawab. (aa/smol)

*)Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Alumnus Madrasah TBS Kudus, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.

1 KOMENTAR

  1. Terima kasih informasi dan motivasi Prodf Rpfiq.
    Memberikan pembelajaran komitmen dan idealis ttp.di standar masing” sesuai karakter bisa lebih mahal dari harga nominal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA