Selasa, 22 Juni 2021

Hikmah Lailatul Qadar di Tengah Pandemi

Oleh: Umnia Labibah*)

SMOL.ID – Salah satu fase penting dalam berkah bulan Ramadlan adalah adanya lailatul qodar yang jatuh di tanggal-tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lailatul qadar menjadi salah satu puncak perburuan ibadah selain predikat tertinggi orang yang berpuasa, yaitu taqwa.

Mengapa demikian, karena lailatul qodar memiliki keistimewaan yang ultimate dibanding ibadah lain karena memiliki nilai sebanding dengan ibadah seribu bulan.

Ramadhan tahun ini adalah kali kedua dilalui dalam suasana pandemi. Meskipun keadaanya sudah lebih baik dari tahun sebelumnya, tetapi pandemi masih menyisakan banyak problema hidup dalam masyarakat. Dari persoalan ekonomi, pendidikan, sosial hingga bersoalan ubudiyah. Bagaimana mendaras hikmah lailatul qadar di masa pandemi?

Keistimewaan Lailatul Qadar
Sebagaimana namanya, Layla, berarti malam. Laylatul Qodar berarti malam al-Qadr. Yaitu suatu malam yang di dalamnya al-Qur’an diturunkan (QS.al-Qodr/97:1). Yang malam itu dinilai lebih baik dari seribu bulan (QS.al-Qodr/97:3). Pada malam itu pula dunia menjadi sempit karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi (QS.al-Qodr/97:4). Sehingga malam itu bergelimang berkah (QS.al-Dukhon/44:3).

Meski al-Qur’an menyebutkan kemuliaan malam tersebut diantaranya karena turunnya al-Qur’an sementara hari ini al-Qur’an telah final, sempurna diturunkan dan tidak ada wahyu lagi selepas wafatnya nabi Muhammad saw. Mayoritas ulama berpendapat bahwa malam lailatul qadar terjadi setiap bulan ramadlan, sebagaimana redaksi ayat ke-empat surat al-Qadr yang menggunakan bentuk kata kerja mudlori’ (present tense).

Beberapa hadist menunjukan bagaimana Rasulullah Saw menganjurkan umatnya mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu yang datang secara khusus di malam-malam ganjil setelah berlalu duapuluh Ramadhan.

Alih-alih menyiapkan diri sejak awal Ramadhan, sehingga datangnya malam lailatul Qadar bersifat rahasia dan tak ada yang tahu pasti waktu datangnya. Karena pencapaian lailatul qadar bukan hal yang instan atau tak terduga seperti rizki min haisu la yahtasib atau tetiba menang undian.

Lailatul qadar adalah hadiah Allah dari usaha berkesinambungan dan sungguh-sungguh. Sebagaimana nabi Muhammad Saw mendapatkan malam lailatul qadar ketika di Gua Hiro, adalah melalui bertahan nuts (menyepi sekian hari untuk berfikir dan bermujahadah).

Pesan Damai Lailatul Qadar dalam Suasana Pandemi. Inti dari amalan malam lailatul qadar adalah menghidupkan malamnya dengan ibadah seperti I’tikaf (berdiam diri di masjid dalam rangka mencari ridlo Allah), tadarus (membaca) al-Qur’an, memperbanyak sholat malam, memperbanyak membaca istighfar dan sholawat sepanjang malam. Nabi sendiri mengatakan bahwa barang siapa yang menghidupkan malam lailatul qadar maka Allah berjanji menghapus dosa-dosanya yang sudah lewat (ghufiro lahu maa taqqaddama min danbih).

Lailatul qadar adalah keberkahan dan keberkahan akan berwujud timbul kedamaian (salam) sebagaimana di-isyaratkan oleh akhir surat al-Qadar. Orang yang mendapatkan lailatul qadar akan menerima qadar Allah. Menerima kepastian-Nya, hukum-Nya, ketentuan-Nya, qadar-Nya berarti menerima pengaturan-Nya dalam kehidupan. Jiwa yang menerima qadar Allah ini akan mewujud dalam pribadi yang tenang dan damai (salam). Pengaturan dan hukum Allah berlaku atas semua hal, termasuk pula dalam pandemi covid-19.

Seorang yang bertemu dengan lailatul qadar akan hidup dalam damai. Damai dengan dirinya, damai dengan keluarganya, damai dengan lingkungannya. Orang yang bertemu dengan lailatul qadar senantiasa menjadi agen kedamaian bagi orang lain. Kedamaian bisa bersifat aktif maupun pasif.

Kedamaian aktif ia akan menjadi pemurah, memberi meski sama-sama dalam keadaan sulit, memaafkan yang salah, berkata dan bertindak yang baik. Kedamaian pasif semisal jika ia tidak bisa memberi setidaknya tidak menghalangi orang lain memberi, jika tidak bisa memuji maka ia tidak mencela, jika tidak dapat menyelamatkan maka ia tidak menjerumuskan.

Implementasi pesan damai lailatul qadar dalam situasi serba sulit akibat pandemi saat ini, dengan berbagi sekadar kemampuan masing-masing, mentaati protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah sehingga jika kita tidak bisa menjadi agen penyelamat setidaknya kita bisa menjadi bagian dari orang yang tidak menjerumuskan orang lain dalam penularan covid-19. Kedamaian diri menjadi prasyarat mutlak kedamaian sosial. Kesuksesan melawan pandemi di mulai dari diri yang akan berbuah pada kesuksesan bersama. Semoga. (aa-smol)

*)Umnia Labibah, Anggota Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK)
MUI Banyumas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA