Selasa, 22 Juni 2021

Pesan Sosial Idul Fitri

Oleh: Samsudin*)
SMOL.ID – Pemerintah melalui Menteri Agama Republik Indonesia telah mengumumkan hasil sidang itsbat penetapan 1 Syawal 1442 H yang jatuh pada hari Kamis, 13 Mei 2021.
Bagi kaum muslimin, hari raya Idul Fitri merupakan momentum yang dirindukan. Kehadirannya menjadi sebuah pemandangan yang indah dan menyenangkan.

Gema takbir yang membahana mengiringi kedatangan hari kemenangan itu disuarakan oleh dua miliar umat Islam di muka bumi ini, menyeruak di setiap sudut kehidupan, di masjid, di lapangan, di suaru, di kampung-kampung, di gunung-gunung, di pasar, dan di seluruh pelosok negeri umat Islam.

Suasana kebahagiaan pun kian merekah dan menghiasi wajah setiap orang, disertai meluncurnya kata-kata maaf dan doa-doa yang tulus, ”Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali suci, menang dalam melawan hawa nafsu, dan orang orang yang diampuni dosa-dosanya.”

Salah satu kebahagiaan yang dirasakan saat seorang mukmin menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah ketika dirinya dengan ikhlas untuk sementara waktu meninggalkan anugerah Tuhan yang selama ini direguk dan dinikmati bersama.

Keimanan dan kecintaannya kepada Allah Sang Pencipta telah mendorong dirinya mau dengan kerelaan hati meninggalkan perbuatan-perbuatan yang sebenarnya halal di siang hari. Puasa yang dijalani seakan hendak mengajak pelakunya untuk merasakan betapa dirinya amat menderita andaikata berbuka hanya sehari, merasakan perihnya lapar dan dahaga sebagaimana nasib yang dialami orang-orang yang menderita kelaparan atau terkena bencana.

Sementara dari aspek sosial, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar. Inilah pesan sosial tentang kasih saying dan solidaritas kemanusiaan.

Peduli Pandemi Covid-19

Idul Fitri tahun ini nampaknya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Situasi pandemi Covid-19 masih menghantui masyarakat Indonesia. Bahkan melonjaknya kasus Covid-19 di India sangat mencengangkan masyarakat dunia.

Data kenaikan kasus Covid-19 di India diklaim hingga 400.000 kasus pada akhir April. Kekhawatiran akan munculnya ancaman gelombang kedua pandemi selayaknya menjadi perhatian serius semua pihak.

Di Indonesia, sebelum Idul Fitri, sudah mengalami kenaikan hingga 6.000-an kasus. Jauh-jauh hari sebelumnya, pemerintah Indonesia telah mengupayakan langkah-langkah penguncian dan memberlakukan beberapa pembatasan baru, termasuk larangan mudik guna menurunkan mobilitas publik, dalam upaya menurunkan tingkat infeksi virus corona.

Sebagai wujud kepedulian terhadap kehidupan sosial, kaum muslimin perlu menyadari bahwa Indonesia belum bebas dari pandemi. Meskipun sebagian masyarakat telah divaksinasi, bukan berarti kemudian dapat beraktivitas secara leluasa dengan mengabaikan protokol kesehatan.

Termasuk kepeduliaan terhadap kebijakan larangan mudik merupakan tanggung jawab moral dan sosial setiap warga negara. Dasadari memang ada dilema, di satu sisi masyarakat memahami, bahwa silaturahmi di hari Lebaran merupakan hal yang dirasa penting, tetapi di sisi lain wabah corona, adalah sesuatu yang harus dihadapi bersama secara serius.

Oleh karena itu, seyogyanya kita perlu berfikir bertindak bertindak secara secara arif dengan mendahulukan yang penting dari yang kurang penting; karena hanya cara ini yang lebih baik dan bijaksana. Sejalan pendapat ulama’ ahli Ushul fiqh yang menjelaskan bahwa : “Apabila ada suatu perkara yang dipertentangkan antara wajib dan haram, maka didahulukan hukum haram atas hukum wajib, karena menjaga dari terjadinya kerusakan itu lebih diutamakan daripada usaha mewujudkan kemaslahatan” (Fi Anwa’il Furuq : VIII/281).

Tradisi pulang kampung, di satu sisi dirasa sangat baik, karena merupakan bentuk dari silaturahmi saling bermaafan, tetapi di sisi lain sangatlah berbahaya di masa pandemi ini, karena berpotensi menimbulkan penularan virus lebih besar dan meluas. Maka yang lebih baik adalah tetap menjalankan silaturahmi, tetapi tidak dengan cara mudik ke kampung halaman, untuk menghindari mafsadat atau kerusakan yang lebih parah.

Peduli Palestina

Kegembiraan menyambut hari lebaran di Indonesia ternyata tak seindah yang dirasakan kaum muslimin di Palestina. Hari-hari terakhir menjelang Idul Fitri, Al-Aqsa kembali memanas, bentrokan terjadi sejak Jumat 8 Mei 2021. Terjadi ketegangan dan kerusuhan atas kemungkinan penggusuran warga Palestina dari tanah yang diklaim oleh pemukim Yahudi.

Masjid Al Aqsa diserang, mengakibatkan lebih dari 200 orang Palestina terluka akibat tindakan polisi Israel. Aparat menindak massa dengan peluru karet, granat kejut, dan pemukulan. Muslim Palestina yang tengan melaksanakan shalat tarawih di area Masjid Al Aqsa diusir dan dibubarkan dengan dentuman-dentuman peluru karet sehingga memicu perhatian dan kepedulian dari berbagai negara.

Presiden Joko Widodo melalui akun twitter-nya, Senin (10/5/2021) mengecam aksi kekerasan polisi Israel terhadap warga Palestina di masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Jokowi menilai aksi kekerasan dan penggusuran terhadap warga palestina tersebut tak boleh diabaikan.

Sebagai wujud solidaritas sosial, sepatutnya kita menghaturkan kidung doa untuk keselamatan saudara-saudara kaum muslimin di Palestina yang tidak dapat merayakan Idul Fitri dengan suka cita. Partisipasi melalui uluran bantuan dan support dalam bentuk apapun tentu sangat bermakna dalam membantu masyarakat Palestina.

Kita bisa memahami, kebanyakan orang menjadi peduli dengan penderitaan orang lain ketika mereka merasakan penderitaan yang sama. Dengan kata lain, banyak orang yang tidak mempunyai kepeduliaan pada kenestapaan orang lain karena mereka tidak merasakannya. Maka pantas sekali kalau Allah mewajibkan kaum muslimin menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Dengan harapan tumbuh kepekaan dalam diri kita terhadap penderitaan orang lain, sehingga kita peduli dan mau membantu orang-orang yang kelaparan.

Di penghujung Ramadhan, setiap insan yang mukmin kembali diharuskan mengasah rasa empatinya, menyapa saudara-saudaranya yang fakir, miskin, dhu’afa dan mustadh’afin dengan rasa cinta kasihnya melalui perintah membayar zakat fitrah sebagai prasyarat yang merupakan simbol penting dalam meraih kembali kesucian dasar manusia. Alangkah indahnya dunia ini, jika solidaritas sosial tumbuh di dada setiap manusia.

Rasulullah SAW membuat ilustrasi yang sangat indah tentang relasi social orang-orang mukmin: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling cinta mencintai dan saling kasih-mengasihi adalah laksana satu tubuh, apabila satu anggota sakit, maka semua anggota tubuhnya merasakan demam dan tak dapat tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Momentum Idul Fitri selayaknya disambut bukan hanya sekadar mengungkapkan apresiasi rasa senang dan bahagia, tapi bagaimana Idul Fitri dapat menjadi lebih bermakna dengan memanfaatkannya sebagai wahana introspektif, yang sarat dengan perenungan diri dalam dimensi vertical maupun horizontal.

Artinya, di balik gegap-gempitanya penyambutan hari kemenangan ini, kita perlu mengevaluasi potret kualitas dan kuantitas penghambaan kita kepada Allah SWT serta perilaku social kita terhadap sesama.
*)H Samsudin, SAg MAg, dosen FAI Unissula Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA