Selasa, 22 Juni 2021

Puasa dan Kecerdasan Sosial

Oleh: Ahmad Rofiq*)
SMOL.ID – Tak terasa puasa akan berakhir, dan bulan Ramadhan 1442 H, segera meninggalkan kita. Bahagia karena kita telah memenangi jihad dalam memerangi hawa nafsu dan menyempurnakan ibadah puasa dengan zakat fitrah dan zakat mal.

Meskipun demikian, kita musti tetap melakukan evaluasi dan muhasabah agar puasa yang kita laksanakan, benar-benar mampu mencapai derajat dan kualitas ketaqwaan. Pada QS. Al-Baqarah (2): 183 bagian akhir, digunakan kata kerja bentuk mudlari” yang menurut para ulama terkandung maksud istimrar al-tajaddud atau ketersinambungan untuk terus memperbaharui.

Kata “la’allakum tattaqun” digunakan 19 kali dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah (2): 21, 63, 179, 183, Al-An’am (6): 153, Al-A’raf (7) 65, 171, Yunus (10): 31, An-Nahl (16): 52, Al-Mu’minun (23): 23, 32, Asy-Syu’ara (26): 106, 124, 142, 161, 177, Ash-Shafqat (37): 124, dan Al-Muzammil (73): 17.

Karena itu, formulasi atau tampilan orang yang bertaqwa, tidak cukup hanya dilihat dari tampilan fisik apalagi casing busana saja yang erat kaitannya dengan budaya setempat. Karena itu,  ketaqwaan bisa dilihat, di antaranya dengan beberapa indikator ketaqwaan buah dari kecerdasan sosial, setelah secara fisik dan spiritual ditempa melalui serangkaian ibadah.

Beberapa indikator ketaqwaan adalah munculnya kecerdasan sosial. QS. Ali ‘Imran (3): 134-135 “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”.

Kecerdasan sosial itu muncul setelah melalui penempaan fisik dan spiritual. Tetapi indikator ketaqwaan pun harus terus menerus diperbaharui. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda: “Sekiranya umatku mengetahui rahasia kemuliaan dan keutamaan bulan Ramadhan, sungguh mereka akan mengharapkan sepanjang tahun Ramadhan (semua)” (Dari Ibnu ‘Abbas dalam Usman bin Hasan Al-Khaubawy).

Tentu setelah Ramadhan meninggalkan kita, bulan Syawal sudah menjemput. Namun spirit pesan Rasulullah saw adalah, agar nilai, spirit dan semangat Ramadhan, terutama dalam beribadah baik ritual maupun sosial, perlu terus membara dan lebih baik lagi. Kesuksesan puasa yang kita kerjakan, selain kembali kepada fitrah atau kesucian, adalah makin meningkatnya grafik keimanan dan amalan shalih. 

Kita harus “berpisah” dan ditinggal oleh bulan suci Ramadhan, yang memberi banyak pelajaran berharga, pendadaran mentalitas, keimanan, ketaqwaan, dan kesungguhan dalam menjalankan perintah puasa, dengan filosofi dan maqashid syariah puasa.

Apakah puasa kita selama satu bulan ini, mampu memercikkan dan kembali kepada fitrah kita, yang meminjam bahasa Al-Farabi, hanya ingin kepada yang baik, benar, dan indah.
Apakah kita menjadi lebih memiliki kercerdasan dan kedermawanan sosial, menafkahkan sebagian rizqi, baik dalam keadaan longgar atau sempit, menahan marah dan memaafkan serta membuang segala macam dengki dan kebencian, tidak lagi berbuat keji, atau aniaya, segera bertaubat, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulanginya lagi.

Para Ulama membahasakannya, “laisa l-‘Id liman labisa l-jadid wa innama l-‘Id liman tha’atuhu tazidu” artinya “tidaklah ber-hari raya (itu) bagi orang yang berbusana baru, akan tetapi ber-hari raya adalah bagi orang yang ketaatannya (kepada Allah) bertambah”.

Lebih lengkap lagi, harapannya, kita mampu meningkatkan, seperti kandungan doa tarawih, yang kita baca setiap selesai shalat tarawih.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, memenuhi kewajiban-kewajiban, memelihara shalat, mengeluarkan zakat, mencari apa yang ada di sisi-Mu, mengharapkan ampunan-Mu, berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, zuhud pada urusan dunia, menyenangi akhirat, ridha dengan qadha’ dan qadar Allah, mensyukuri nikmat, sabar atas segala musibah, berada di bawah panji-panji junjungan kami Nabi Muhammad saw, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), masuk ke dalam surga, selamat dari api neraka, duduk di atas ranjang kemuliaan, menikah dengan para bidadari, mengenakan berbagai sutra, makan makanan surga, minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shaleh.

Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya.

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H, Ja’alana Allah wa iyyakum min al-‘Aidin wa l-Faizin, wa antum kulla ‘amin bi khair, taqabbala Allah wa minna taqabbal ya karim. Mohon maaf lahir dan batin.   (aa/smol)              
*)Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Alumnus Madrasah TBS Kudus, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA