Rabu, 23 Juni 2021

Halal Bihalal: Agama dan Budaya?

Oleh Ahmad Rofiq*)

SMOL.ID – Ritual dan budaya Halal Bihalal sebagai rangkaian lebaran Idul Fitri 1442 H, masih harus mengulang lagi, 1441 H, karena pandemic Covid-19 masih “mengancam”.
Ancaman tersebut, dipicu oleh meledaknya jumlah sangat besar kematian akibat terpapar Covid-19 di India. Namun pelaksanaan Shalat Idul Fitri bisa dilangsungkan di masjid-masjid dan lapangan terbuka, meskipun dengan protokoler kesehatan yang sangat ketat.

Sudah lebih dari setahun, kita diuji melalui Covid-19. Al-Qur’an menyebut kata mushibah sebanyak 10 kali.

Musibah atau ujian ini bisa berisi kebaikan dan juga keburukan (QS. At-Taubah (9): 50). Supaya kita kuat menghadapi, pertama, kita perlu memahami bahwa musibah itu sudah ada catatan Allah (di Lauhil Mahfudh), karena itu kita musti sabar dan tawakkal (QS. At-Taubah (9): 51, Al-Hadid (57): 22).

Kedua, musibah ini terjadi karena kesalahan manusia (human error) (QS. Asy-Syura (42): 30). Ketiga, musibah terjadi karena atas izin Allah. Karena itu, bagi yang percaya (beriman) Allah akan memberi hidayah. Karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. At-Taghabun (64): 11).  

Ketika tulisan ini disiapkan, pandemi covid-19 di Jawa Tengah per-Sabtu, 15 Mei 2021 12:00, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menyebutkan Terkonfirmasi Dirawat (Kasus Aktif) 6.151(+306), Terkonfirmasi Meninggal 12.207 (+24).

Seluruh Indonesia, total kasus positif 1,73 juta, dan meninggal dunia 47.823 jiwa. Di Kota Semarang sendiri data Dinas Kesehatan Kota Semarang per-Ahad, 16/5/2021, kasus terkonfirmasi dirawat ada 244, ditambah 100 luar Semarang, dan meninggal dunia 1961 ditambah 884 luar Semarang.

Jika Pemerintah dan MUI masih menghimbau kita rayakan Idul Fitri dan Halal Bihalal, dengan tetap menjaga protokoler kesehatan, semata-mata dalam menjaga maqashid asy-syari’ah utamanya hifdh al-nafs atau melindungi jiwa.

Ini sejalan dengan kaidah dar’u l-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi l-mashalih artinya menghindari kerusakan itu didahulukan daripada mengambil kemashlahatan. Atau juga al-wiqayah khairun min al-‘ilaj artinya menjaga itu lebih baik daripada mengobati.

Dalam konteks agama, halal bihalal pada hakikatnya adalah implementasi ketaqwaan yang menjadi tujuan ibadah puasa di bulan Ramadhan, yakni menjadi hamba yang pemaaf (wa al-‘afina ‘ani n-nas). Proses halal bihalal yang utama adalah bertemu antara satu orang dengan yang lain, dan berjabat tangan atau bersalaman, yang dalam bahasa Rasulullah Saw disebut mushafahah.

Kata mushafahah sendiri berasal dari akar kata ash-shafhah artinya lembaran kertas putih kosong yang belum ada tulisan, lukisan, atau coretan lainnya. Riwayat dari Al-Barra’ bin ‘Azib, Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah dua orang Islam yang berjumpa, maka berjabat-tangan (bersalaman), kecuali keduanya diampuni sebelum mereka berpisah” (Riwayat Abu Dawud, 5212, At-Tirmidzi, 2727, Ibnu Majah, 3703, dan Ahmad 18547).

Orang yang berhalal-bihalal idealnya, memperkokoh fitrah manusia yang menurut Ibnu Sina, entitas dan pergerakannya berbasis pada benar, baik, dan indah (Al-Isyarat wa t-Tanbihat) agar benar-benar menjadi manusia yang hati dan fikirannya terbebas dari rasa kebencian dan dendam kepada siapapun.

Kata Ibnu Sina: “Orang yang fitri, menjadi seorang ‘arif, bebas dari ikatan raganya. Ia selalu gembira dan banyak senyum. Betapa tidak! Sejak ia mengenal-Nya, hatinya telah dipenuhi oleh kegembiraan. Dengan melihat Yang Maha Suci, semua dianggapnya sama, karena semua sama-sama makhluk Allah. Wajar jika semua mendapatkan rahmat, baik yang taat maupun yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari-cari kesalahan.

Ia tidak akan marah, tidak pula tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi oleh rasa kasih sayang, dan karena ia memandang keindahan, ia memandang sir (rahasia) Allah terbentang di dalam qudrat-Nya.

Bila ia mengajak kepada kebaikan, ia melakukannya dengan lemah lembut tidak dengan kekerasan. Tidak pula dengan kecaman, kritikan yang melukai atau ejekan. Ia selalu bersifat dermawan.

Betapa tidak, karena cintanya kepada benda tidak berbekas lagi. Ia selalu menjadi pemaaf. Betapa tidak, karena dadanya sedemikian lapang, hingga tidak ada tempat lagi baginya berbuat kesalahan pada orang lain. Ia tidak akan menjadi pendendam. Karena seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Maha Suci lagi Maha Agung itu”.

Dalam perspektif budaya, halal bihalal disimbolkan dengan “kupat” atau anyaman daun muda kelapa dan diisi beras, kemudian direbus sampai masak. Dilengkapi dengan “lepet” sama-sama dibuat dari daun muda kepala atau janur. Kupat mengandung makna “mengaku lepat” artinya mengaku salah. Media janur bermakna “Ja-a Nur” atau “Jatining Nur” dan “lepet” sama-sama dibuat dari janur, diisi beras ketan dicampur kelapa – kadang ditambah kacang tolo – lalu diikat dengan kuat-kuat.

Filosofinya, setelah dua anak manusia bersalaman, setelah masing-masing mengaku salah (lepat), diharap akan datang cahaya hati (ja-nur), dan setelah itu diikat melalui ikatan persaudaraan (silaturrahim). Pesan utamanya adalah, tidak ada lagi dendam di antara sesama, silaturrahim menjadi lebih baik, karena jalan rizqi yang paling utama adalah silaturrahim.

Dalam konteks “politik” budaya dan tradisi Halal Bihalal ini khas Indonesia. Karena di belahan dunia lain, tidak dijumpai. Awalnya digelar berdasar fatwa KH Abdul Wahab Chasbullah kepada Bung Karno, yang masih sangat muda. Di pertengahan Ramadhan 1948, Bung Karno risau, karena elit politiknya saling bertengkar dan tidak mau duduk bersama dalam satu majelis untuk menyelesaikan. Pemberontakan terjadi di mana-mana, seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan PKI Madiun.

Tentu ini tidak menguntungkan bagi pembangunan Indonesia ke depan. Semula KH Wahab Chasbullah menyarankan agar diselenggarakan silaturahim menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bung Karno berpendapat: “Silaturahim itu kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. KH Wahab menambahkan: “Para elit politik tidak mau bersatu, mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa, maka harus dihalalkan.

Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah “halal bihalal”(Masdar F. Mas’udi).

Jika substansi halal bihalal bisa dilakukan, sementara dengan saling memaafkan tanpa harus ber-mushafahah atau berjabat tangan, maka halal bihalal budaya, juga tidak harus dipaksakan. Selamat ber-Halal Bihalal dan bersilaturrahim secara spiritual-digital, semoga kesehatan, kemudahan rizqi, dan karunia umur panjang yang berkah, senantiasa Allah limpahkan pada kita semua. Pandemi Covid-19, segera disingkirkan dari bumi Indonesia. Amin. Allah a’lam bi sh-shawab.
Ngaliyan, Semarang, 4/Syawwal/1442 H-16/Mei/2021 M. (aa/smol)
*)Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, dan Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA