Selasa, 22 Juni 2021

Jamaah Shalat Id di Masjid Al-Haibah Meluber

SMOL.ID – SEMARANG – Untuk kali pertama Masjid Al-Haibah yang diinisiasi Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dipakai Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1422H.

Ketua Takmir Drs KH Ahmad Hadlor Ihsan menjelaskan, Al-Haibah artinya hebat. ‘’Sesuai dengan jargon Semarang hebat,’’ kata Kiai Hadlor.

Masjid tersebut terletak di pinggir Jalan Raya Semarang-Kendal, tepatnya di Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu.
Bertindak selaku imam dan khatib pengasuh Pondok Pesantren Ulumul Quran, Mangkang Kulon Semarang Dr KH Ali Imron Hasan AlHafidz.

Dalam khotbah berjudul “Idul Fitri Sepanjang Hayat’’, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo itu mengatakan, hakikat ibadah di bulan Ramadhan adalah upaya manusia untuk mendapatkan derajat takwa sejati, yaitu takwa yang dijanjikan Allah Swt sebagaimana terekam dalam QS Al Imran ayat 135-136.

‘’Seseorang yang memperoleh takwa sejati ini akan mendapatkan kecucian diri atau kembali kepada fitrah (Idulfitri)  dan mendapatkan kenikmatan luar biasa (Jannah atau surga) yang tidak dapat dibandingkan dengan semua kenikmatan alam dunia itu,’’ kata Sekretaris Umum PW Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Jateng itu.
Menurutnya, seseorang yang ingin 
memperoleh derajat takwa sejati harus memiliki empat variable kecerdasan secara utuh. Pertama, dia harus memiliki kecerdasan finansial, yaitu rela menafkahkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan umum baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan senang maupun susah, baik dalam keadaan berlebih harta maupun dalam keadaan krisis ekonomi (fissarra` wadzarra`).

Kedua, kata Ali Imron, dia harus memiliki kecerdasan emosi, yaitu kemampuan untuk mengendalikan amarah (kadhimi al ghaida) sehingga tidak berdampak negativ terhadap orang yang ada di sekelilingnya. ‘’Dia mampu mengelola amarah dengan bijak dan tepat. Ketiga, dia harus memiliki kecerdasan sosial, yaitu mampu memaafkan kesalahan orang lain (`afinaaninnas) dan mengihlaskan bahkan melupakan atas perilaku buruk orang lain terhadap dirinya.

‘’Keempat, dia harus memiliki kecerdasan spiritual, yaitu mampu untuk segera ingat kepada Allah ketika ia khilaf melakukan perbuatan keji atau bahkan menganiaya diri sendiri. Dia segera minta ampunan kepada Allah Swt,’’ tegasnya. (aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA