Sabtu, 24 Juli 2021

Dosen UMP Bangga PathGen Wakili Indonesia di Ajang XTC

SMOL.ID, PURWOKERTO – Dosen Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Susanti MPhil Apt mengaku bangga karena Pathgen yang dia rintis bersama rekan-rekannya menjadi salah satu dari tiga startup yang mewakili Indonesia di ajang Extreme Tech Challenge (XTC).

“Saya senang sekali karena PathGen Diagnostik Teknologi atau PathGen itu kan startup yang baru kami rintis pada awal 2020 atas dukungan pendanaan awal dari Islamic Development Bank,” katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat siang.

Susanti yang sedang menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) di University of Nottingham, Inggris, itu mengatakan PathGen sebenarnya merupakan pemikiran bersama dari beberapa peneliti yang tergabung dalam konsorsium riset NICCRAT (Nottingham-Indonesia Collaboration for Clinical Research and Training).

Dalam hal ini, PathGen didukung oleh para ilmuwan terkemuka dari Inggris, Australia, dan Indonesia termasuk Dr Ahmad Utomo (Universitas Yarsi), Dr Wien Kusharyoto dan Asep M Ridwanuloh (LIPI), Prof Aru W Sudoyo (Yayasan Kanker Indonesia), Dr Ines Atmosukarto (Australia National University), Prof Mohammad Ilyas (University of Nottingham), dan Prof Ian Tomlinson (Cancer Research UK Edinburgh Centre).

Bahkan, Susanti menggabungkan keahlian ilmiahnya dengan pengalaman pribadinya sebagai penyintas kanker untuk mendirikan PathGen Diagnostik Teknologi tersebut.

“Nah, di usia PathGen yang masih sangat muda dan berhasil terpilih mewakili Indonesia di ajang kompetisi startup bidang inovasi sosial yang terbesar, ya kami sangat bangga,” kata Chief Excecutive Officer (CEO)/Founder PathGen Diagnostik Teknologi itu.

Ia mengatakan ajang XTC akan digelar secara daring pada tanggal 22 Juli 2021 di California, Amerika Serikat, diikuti 59 startup dari berbagai negara yang telah menjalani serangkaian tahapan seleksi.

Selain PathGen, dua startup lainnya yang akan mewakili Indonesia di ajang XTC adalah Magalarva (startup yang fokus pada bisnis pengolahan sampah organik) dan Zi.Care (startup layanan kesehatan digital).

“Kami tentunya ikhtiar, berusaha yang terbaik. Kami tentunya akan memberikan yang terbaik di ajang internasional itu dan kami juga mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di London,” katanya.

Ia mengakui PathGen berdiri pada masa-masa sulit karena usianya seumuran dengan pandemi COVID-19 yang belum tertanggulangi hingga sekarang, sehingga mobilitas antarnegara masih susah. “Saya pun masih tertahan di Inggris,” katanya.

Dengan demikian, koordinasi antara ilmuwan yang ada di Indonesia dan Inggris dilakukan secara daring meskipun kegiatan PathGen diinkubasikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sementara untuk kegiatan di Indonesia, lanjut dia, secara luring karena proses inovasi produknya harus dilakukan di laboratorium maupun rumah sakit.

“Tim di Indonesia terdiri atas para peneliti muda, sedangkan tim di Inggris hanya beberapa penasihat ahli. Penasihat ahli kami merupakan kombinasi dari Indonesia dan Inggris, tapi semua kegiatan ada di Indonesia,” kata dia yang juga menjadi research fellow di Molecular Pathology Group, School of Medicine, University of Nottingham.

Berdasarkan informasi yang dirangkum melalui laman pathgen.co.id, PathGen mengusung visi yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan global dalam pengobatan kanker dan penyakit lainnya melalui pengobatan presisi dengan menyediakan tes diagnostik molekuler berbiaya rendah dan patologi digital serta terlibat dalam pengembangan kapasitas melalui pertukaran pengetahuan dengan mitra global.

PathGen memiliki produk unggulan berupa ColoMelt-Dx (diagnostik kanker kolorektal) serta INDiPath ViuMe (perangkat lunak dan perangkat keras patologi digital berbasis Artificial Intelligence). (lin/smol/ant)

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA