Selasa, 22 Juni 2021

Melahirkan Anak Disamakan dengan Turun Mesin, Bukti Rendahnya Penghargaan Kemanusiaan Perempuan

Oleh : Umnia Labibah*)

SMOL.ID – Dari sebuah time line di berbagai media, seorang tokoh dikabarkan membuat pernyataan terkait istrinya yang telah berjuang melahirkan anaknya sebanyak tujuh kali dengan menyamakan turun mesin tujuh kali. Barangkali sepintas pernyataan itu adalah lelucon, tetapi jika menyebut istri sebagai yang dicintai disamakan dengan mesin, alih-alih memunculkan bahan bercandaan menjadikan perjuangan hidup dan mati sebagai sesuatu tanpa makna.

Seperti ada yang terusik, kemanusiaan perempuan yang karena tugas reproduksinya diagungkan oleh hadist nabi dengan derajat tiga kali lebih tinggi dari ayah, perjuanganya hanya diibaratkan asset kendaraan.
Seperti gunung es, fenomena pernyataan tokoh agama tersebut menjadi spektrum bagaimana sebagian besar masyarakat masih memandang pengalaman biologis perempuan sebagai susuatu yang rendah, aib, kotor, bahkan dianggap kutukan. Perempuan dengan tugas reproduksi seolah dilahirkan untuk menerima keburukan, bahkan dari dalam dirinya sendiri. Muncul sepintas tanya, benarkan Tuhan yang maha bijak menciptakan perempuan sedemikian rendah dengan tugas biologisnya?

Bernarkan Tuhan yang maha adil menciptakan manusia berjenis kelamin perempuan untuk diperlakukan semena-mena selayaknya barang hanya karena kodrat biologisnya? Tidakkah pengalaman biologis perempuan adalah sebatas penyerta kodrat besar yang dimandatkan dari yang Maha Kuasa?

*Mitos Kodrat Perempuan dan Rendahnya Kesadaran Gender*

Allah menciptakan manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang telah dinash oleh al-Qur’an membawa misi besar rahmatan lil ‘alamiin (QS.al-anbiya:107) dan sebagai wakil Allah di bumi (QS.al-Baqarah:30). Allah menciptakan manusia dalam perbedaan baik suku, agama, bangsa hingga jenis kelamin (QS.al-Hujurat:13), tujuanya adalah untuk berlomba-lomba meraih kebaikan (al-Baqarah : 148) dan derajat terbaik disisi-Nya. Derajat terbaik tersebut bukan disandarkan pada kriteria jenis kelamin, akan tetapi akan ketakwaan seseorang (QS.al-Hujurat:13). Dan dalam tugas mulian tersebut, Allah memberikan tugas reproduksi yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Secara biologis perempuan mengemban tugas reproduksi yang membawa perempuan mengalami lima pengalaman biologis yaitu : menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui. Menjadi masalah ketika, pengalaman biologis special perempuan tersebut dianggap sebagai masalah, aib bahkan kutukan sehingga melahirkan apa yang disebut 5 (lima) pengalaman sosial perempuan yang berwujud ketidak-adilan perempuan, yaitu : stigmatisasi, marginalisasi, sub ordinasi, kekerasan hingga beban ganda. Perempuan, menerima perlakuan dilecehkan, distigmakan penggoda, disalahkan, menjadi objek kekerasan hanya semata karena mereka perempuan. Dalam kasus di atas, seorang suami memandang istrinya yang berjuang antara hidup dan mati melahirkan buah cinta mereka, sebatas barang saja tanpa empati.

Dengan menyamakan perempuan hamil dan melahirkan dengan kendaraan atau property semata, telah meniadakan bagaimana perempuan menjalankan tugas reproduksi tersebut dalam keadaan yang bahkan disebut dalam al-Qur’an sebagai kesakitan dan kepayahan hamil (QS.luqman:14) dan melahirkan dan menyusui dalam susah payah (QS.al-ahqaf:15) yang disebutkan penuh empati oleh al-Qur’an.

Dalam berbagai mitos, pengalaman reproduksi perempuan yang merupakan konsekuensi tugas reproduksi yang diembannya dikekalkan dalam berbagai cerita. Menstruasi misalnya, digambarkan jika buah anggur disentuh perempuan yang tengah menstruasi maka anggur tersebut akan menjadi busuk. Wanita yang menstruasi pada zaman dahulu bahkan diasingkan dan dijauhkan dari berbagai aktivitas. Bahkan filosof Aristoteles berpendapat bahwa inti kehidupan ada pada laki-laki, karena laki-lakilah pemilik sperma dan perempuan sebaliknya hanya bisa menghasilkan kotoran berupa darah menstruasi. Dalam melahirkan juga terdapat banyak mitos, diantaranya yang tersebut dalam perjanjian lama bahwa sakit dan kepayahan dalam melahirkan yang dirasakan perempuan adalah kutukan yang diterima hawa karena telah menggoda Adam.

*Islam dan Penghargaan Kemanusiaan Perempuan*

Islam adalah agama yang memuliakan manusia, tak terkecuali perempuan, bahkan Allah menjadikan manusia sebagai pengemban amanah khalifah-Nya di bumi. Islam mendudukan manusia setara sebagaimana al-Qur’an mendeskrisipsikan dengan rigid normatifitas kesetaraan manusia, diantaranya al-Qur’an menyebutkan laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba (Q.S.al-Zariyat/51:56), laki-laki dan perempuan keduanya ditugaskan menjadi khalifah di bumi (Q.S.al-An’am/6:165), laki-laki dan perempuan keduanya menerima perjanjian primordial dari tuhan (Q.S.al-A’raf/7:172), Adam dan Hawa sebagai simbol laki-laki dan perempuan keduanya terlibat aktif dalam drama kosmis (Q.S.al-Baqarah/2:35), Q.S.al-A’raf/7:20), Q.S.al-A’raf/7:22-23), (Q.S.al-Baqarah/2:187) dan laki-laki dan perempuan di sebutkan dalam al-Qur’an memiliki potensi yang sama meraih prestasi (Q.S.’Ali Imran/3:195).

Al-Qur’an secara khusus memberikan banyak perhatian terhadap perempuan, seiring dengan perjuangan nabi Muhammad saw dalam menegakkan keadilan, termasuk diantaranya keadilan gender. Pengalaman biologis perempuan banyak di sebut dalam al-Qur’an. Terdapat ayat tentang menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui yang kesemuanya mengandung petunjuk pada selain perempuan untuk tidak membebani, tapi mendukung untuk meringankan perempuan. Islam banyak memberikan aturan khusus yang berupa kemudahan-kemudahan bagi perempuan yang menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, menyusui dalam menjalankan berbagai ibadah seperti sholat, puasa maupun haji. Jika al-Qur’an saja sedemikian menunjukan empatinya, alih-alih para lelaki peduli dan membantu perempuan menjalankan pengalaman kodratinya secara nyaman, aman, sehat dan selamat.

Dalam analisa kritis, pembahasan secara khusus yang dilakukan oleh al-Qur’an terhadap pengalaman biologis perempuan, bukan semata-mata pengaturan tetapi lebih jauh adalah prespektif al-Qur’an yang di dalamnya memuat spirit pemanusiaan perempuan.

Menyamakan perempuan dengan kendaraan bukan saja tidak bernurani tetapi menunjukan rendahnya cara pandang seseorang dalam memandang kemanusiaan perempuan. Jika perempuan hanya kendaraan, property yang mudah usang, maka mudah saja bagi penguasanya akan mengabaikanya jika telah mengalami banyak kerusakan, bahkan bisa saja membuangnya dan mencari alternatif yang baru. Jika tokoh agama saja sedemikian memandang perempuan, mendudukan keberadaan istri, harapan perwujudan gender equty atau keadilan gender seolah semakin kabur dalam impian. Tentu ini bukan hanya tugas perempuan, menghormati kemanusiaan manusia adalah nilai universal yang harus ditegakkan siapapun. Ternyata, siapa yang merasa dirinya manusia bernurani. (aa/smol)

*) Umnia Labibah
Divisi Politik, Hukum dan Advokasi Perempuan dan Anak PC Fatayat NU Banyumas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA