Selasa, 22 Juni 2021

Belasan Orang Korban Arisan Hoki Gruduk PN Bantul

Para korban arisan Hoki dengan membawa poster demo di depan PN Bantul. (Foto : Smol.id/Rangga Permana)

SMOL.ID – BANTUL – Belasan orang korban arisan Hoki, Kamis (10/6) gruduk Pengadilan Negeri (PN) Bantul, untuk mediasi dengan penyelenggara arisan.

Namun niat baik para korban arisan Hoki tersebut, tidak ditanggapi secara baik buktinya penyelenggara arisan tidak hadir dalam persidangan.

Para korban arisan Hoki yang digalang lewat Whatsapp tersebut, mengalami kerugian miliaran rupiah dengan alasan arisan itu macet, sehingga peserta arisan memilih menyelesaikan arisan di pengadilan.

Seperti yang dituturkan Mya (33) warga Moyudan, Sleman, kali pertama mengikuti arisan Hoki, April 2020. Saat itu, pencairan arisan berjalan lancar tetapi kemudian macet pada Desember 2020 lalu.

Setelah dicek, ternyata hal yang sama juga dialami oleh anggota arisan lainnya. Kemudian para anggota arisan menghubungi owner arisan. Namun tidak ada iktikad baik dari G untuk menyelesaikan masalah arisan tersebut. Begitu juga dengan D suaminya yang janji akan segera menyelesaikan, namun sampai sekarang belum juga selesai.

“Suaminya menjanjikan akan membantu menyelesaikan permasalahan tersebut, tapi kenyataannya sampai sekarang belum juga selesai. Malah kalau didatangi di rumahnya selalu menghindar,” ujar dia di PN Bantul, Kamis (10/6).

Selanjutnya, anggota arisan juga tidak mendapatkan hasil. Bahkan, G memblokir anggota arisan yang datang ke rumahnya untuk minta kejelasan pencairan. Namun yang bersangkutan selalu menghindar. “Akhirnya kami memilih untuk menempuh jalur hukum,” katanya.

Mya sebagai juru bicara korban mengungkapkan, G juga menjadi anggota arisan yang dimilikinya. Bahkan, beberapa kali pernah mendapatkan, di luar uang administrasi yang biasa diterima dari anggota arisan.

“Uang administrasi per kloter beragam. Nilai kerugian anggota juga beragam. Ada yang puluhan hingga ratusan juta. Sementara jika dihitung dari Agustus sampai Desember keuntungan dari uang admin yang didapatkan G ini bisa mencapai Rp600 juta,” ujar perempuan yang mengalami kerugian sekitar Rp20 juta.

Anggota arisan lainnya, yakni Lumintu Reni Lestari mengaku ikut arisan sejak 2020. Pedagang sayur asal Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, ini beralasan mengikuti arisan untuk menabung. Tapi malah uangnya lenyap, entah kemana.

“Kerugian saya juga sekitar Rp20 juta. Saya sudah mencari, tapi tidak pernah ketemu. Saya coba WA juga tidak dibalas. Jadi kami memilih jalur hukum,” katanya. ”Uang itu modal jualan sayur, ikut bablas,” tambah dia.

Meski menempuh jalur hukum, Lumintu berharap agar uang yang telah disetor bisa dikembalikan. “Karena memang saat ini cukup sulit untuk mendapatkan uang,” terangnya.

Korban lain, Dian Astikasari, 33, mengaku rugi Rp120 juta, meski telah empat kali mendapat arisan sejak mengikuti arisan tersebut pada November. “Saya berharap uang kembali,” kata dia.

Setidaknya ada 17 anggota arisan Hoki. Mereka menggugat pemilik grup arisan dan suaminya, yang juga salah satu anggota DPRD Bantul, di Pengadilan Negeri Bantul, Kamis (10/6).

Mereka menggugat owner grup arisan via Whatsapp, G, dan suaminya, D, karena arisan macet dan keduanya dinilai gagal bayar. Awalnya, pencarian arisan berlangsung lancar tetapi memasuki akhir 2020 macet. Bahkan, seorang penjual sayur ikut jadi korban.

17 Anggota arisan Hoki juga menggelar aksi dengan membentangkan kertas yang bertuliskan, ‘berikan hak kami, kembalikan uang arisan kami’ hingga ‘arisan ki mbayar ora gratisan’.

Sementara Kuasa Hukum penggugat Mahendra Handoko mengatakan, gugatan telah didaftarkan Kamis (27/5) lalu dan telah teregister dengan nomor perkara 51/Pdt.G/2021/PN.Btl. Dalam register tersebut disebutkan kerugian yang dialami oleh anggota arisan mencapai miliaran rupiah.

Sidang perdana digelar di PN Bantul, Kamis (10/6). “Tapi baik tergugat 1 dan tergugat II juga tidak hadir. Rencana sidang lanjutan Kamis (22/6) mendatang,” kata Mahendra.

Menurut Mahendra, dalam arisan Hoki semua member tidak saling mengenal karena sistemnya hanya melalui grup Whatsapp dan arisan dibayarkan melalui transfer bank. Para peserta arisan juga melaporkan perkara ini ke Mahkamah Agung (MA) agar bisa dipantau.

Sementara Ketua DPRD Kabupaten Bantul, Hanung Raharjo mengaku baru mengetahui dugaan keterlibatan anggotanya dalam perkara tersebut. Penelusuran akan dilakukan oleh pimpinan dewan. “Malah saya baru dengar. Coba nanti kami klarifikasi kebenarannya,” ujarnya. (Rangga Permana/aa/smol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA