Minggu, 25 Juli 2021

Korban Kecewa, Penyelenggara Arisan Tidak Datang ke Sidang

Kuasa Hukum penggugat Mahendra Handoko dan ibu-ibu korban arisan hoki usai sidang memberi keterangan pada wartawan di PN Bantul. (Foto : Smol.id/Rangga Permana)

SMOL.ID – BANTUL – Perasaan kesal, jengkel dan dongkol tersirat jelas di wajah ibu-ibu yang menggugat pengembalian uang Arisan Hoki yang dikelola G selaku tergugat satu dan D selaku tergugat dua di Pengadilan Negeri (PN) Bantul, (22/6).

Pasalnya pada sidang mediasi, kedua tergugat tidak datang hanya mengirimkan Tatag Swasana SH selaku kuasa hukumnya. Sehingga belum bisa menemukan titik terang yang bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.

Ketidak hadiran para tergugat, menurut penasihat hukumnya karena tergugat dua D sebagai anggota dewan di Kabupaten Bantul terindikasi terpapar Covid-19 sepulang mengikuti kunjungan kerja di Garut, Jawa Barat, sehingga harus menjalani tes kesehatan.

Walau tidak bisa hadir dalam persidangan yang kedua ini, namun Tatag menyatakan kliennya bersedia menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Guna keperluan tersebut, pihaknya minta kepada penggugat untuk menyerahkan rekapitulasi kerugian sebagai bukti formil.

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum penggugat Mahendra Handoko dalam sidang mediasi di hadapan hakim tunggal, pada prinsipnya sama-sama menghendaki dilakukan penyelesaian kekeluargaan sehingga sudah ada titik terang kalau permasalahan ini akan selesai dengan cara yang baik.

“Dengan adanya penyelesaian kekeluargaan, klien kami ini sekarang tidak perlu membawa poster-poster seperti pekan lalu,” tukasnya di halaman kantor PN Bantul. ”Kami berharap kasus ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan, tidak perlu sampai ke persidangan,” tambah Mahendra.

Mahendra menegaskan, sebenarnya mengenai kerugian sudah tercantum dalam gugatan. Tapi kalau memang menginginkan rincian lebih lanjut maka pihaknya akan segera melengkapinya.

Bahkan rinciannya nanti akan dikuatkan dengan saksi-saksi yang jumlahnya mencapai 30 orang. “Kami punya saksi sesama peserta arisan sekitar 30 orang,” katanya.

Di sisi lain, Mahendra juga membantah mengenai rumor uang Rp 500 juta dari tergugat kepada kliennya. Melainkan yang sebenarnya terjadi adalah uang Rp 200 juta tapi yang sampai ke tangan penggugat hanya Rp 160 juta.

Uang Rp 160 juta itu pun semata-mata bukan untuk penggugat. Tapi untuk menghidupkan kembali arisan tersebut yang sempat macet. “Uang Rp 160 juta itu, untuk menghidupkan lagi arisan yang sempat 5 kali berhenti. Walau akhirnya memang berhenti beneran,” ujar Mahendra menjelaskan.

Mahendra kembali mengingatkan, Arisan Hoki dibentuk oleh Tergugat I. Dia adalah owner sekaligus mengikuti arisan tersebut pada April 2020, serta punya kewenangan penuh memilih member yang diizinkan mengikuti room arisan senilai Rp 1 juta sampai Rp 50 juta.

Arisan ini semula lancar, tapi memasuki bulan September mulai tersendat dan macet total pada Januari 2021 hingga menimbulkan kerugian bagi penggugat sebesar Rp 1.018.492.000.

Kerugian material itulah yang sudah dicantumkan dalam gugatan. Sehingga tergugat dianggap telah melakukan perbuatan melawan hukum. Para penggugat keluar dari PN Bantul dengan muka kusam dan dongkol, karena kedua tergugat tidak hadir dalam persidangan. (Rangga Permana/aa/smol)

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA