Minggu, 25 Juli 2021

Polisi Ungkap Pelaku Perusakan Makam di Solo Murid Sekolah Agama Tak Berizin

SMOL.ID, SOLO – Tim Penyidik Polres Kota Surakarta akan bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama dalam menangani perusakan makam melibatkan pelajar di bawah umur. Koordinasi dilakukan karena para pelaku merupakan murid lembaga pendidikan agama yang disinyalir tak berizin. Dikhawatirkan aksi brutal merusak makam merupakan pengaruh dari ajaran yang diterima di sekolahnya itu.

“Kami segera berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Surakarta terkait rekomendasi kegiatan pendidikan itu, dari sisi perizinan,” kata Kapolres Surakarta, Komisaris Besar Polisi Ade S Simanjutak, usai rapat koordinasi bersama Pemda dan Korem 074/Warastratama, di Balai Kota Surakarta, Selasa.

Menurut data yang didapat kegiatan pendidikan yang ada di Kelurahan Mojo itu tidak memiliki izin yang terdaftar di Kantor Kementerian Agama Surakarta.

“Kami juga mendorong Kementerian Agama membentuk tim terpadu untuk memetakan mutu pendidikan dari materi pembelajaran yang selama ini, diajarkan kepada para muridnya. Hal ini, untuk mendudukan masalahnya yang sejelas-jelasnya,” ujarnya.

Dari hasil pemetaan itu merekomendasikan 39 anak yang menjadi siswa belajar di kegiatan pendidikan itu dengan pembinaan khusus. Hal ini, untuk mendudukan kembali anak-anak agar tidak melenceng dari ajaran agama.

“Kami bersama-sama unsur TNI Kodim 0735 maupun Korem 074/Warastratama dan pemerintah daerah setempat untuk bisa menyikapi dengan cepat dan baik. Semua berjalan sebagaimana biasa tidak ada toleransi atau apapun juga yang sifatnya memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.

Proses hukum kasus perusakan makam tetap berjalan ada enam pengasuh di tempat kegiatan belajar itu yang sudah diperiksa. Dari hasil penilaian Kantor Kementerian Agama Surakarta, akan menentukan rekomendasi langkah tindaklanjut yang dilakukan lembaga itu, jika tidak ada izin harus ditutup operasionalnya.

Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuning Raka, menyinggung izin sekolah yang berdiri di Kelurahan Mojo Kecamatan Pasar Kliwon Solo itu. Selama penutupan karena pandemi mereka bisa melakukan pembelajaran tatap muka (PTM).

“Izinnya seperti apa. Sekolah yang lain di Solo tutup dia melakukan PTM. Protokol kesehatan sudah dilanggar dan tidak tepat,” kata Gibran.

Menurutnya, para bocah itu akan dibina dan harus diluruskan pola pikirnya. Murid yang belajar di sekolah itu mulai berusia 3 hingga 12 tahun kebanyakan dari luar daerah Solo.

“Kasus itu, semua sudah ditangani Polres. Yang jelas sekolahnya harus ditutup. Kami sudah menelusuri semuanya baik tenaga pengajar. Mereka pindahan dari suatu tempat,” kata dia.

Perusakan makam yang dilakukan anak-anak murid di sebuah lembaga pendidikan diduga tidak ada izinnya itu, akan tetap diproses dan tidak bisa dibiarkan, apalagi melibatkan murid yang masih kecil usia tiga hingga 12 tahun.

“Yang merusak makam dinilai sudah keterlaluan. Apalagi melibatkan anak-anak, nanti segera diproses sesuai hukum yang berlaku,”pugkas Gibran.(lin/smol/ant)

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA