Sabtu, 24 Juli 2021

Masyarakat Yogya Diajak Kompak Jalankan PPKM Mikro

SMOL.ID, YOGYAKARTA – Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta mengajak seluruh masyarakat, pelaku usaha dan elemen lain, kompak menjalankan dan menaati aturan PPKM mikro lebih ketat. Ajakan itu untuk menekan penularan Covid-19 yang menunjukkan peningkatan dalam dua pekan terakhir.

“Yang harus dilakukan adalah kekompakan, kebersamaan untuk menaati seluruh aturan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) mikro supaya kasus bisa dikendalikan,” kata Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Kamis.

Berdasarkan data, dalam tiga pekan terakhir terjadi kenaikan kasus hingga tiga kali lipat. Tiga pekan lalu, kasus mingguan di Kota Yogyakarta rata-rata berada di kisaran 100 pasien, namun kemudian meningkat menjadi 200 orang per pekan dan pada pekan ini naik menjadi 375 pasien per pekan.

Penularan Covid-19 di Yogyakarta tergolong cukup cepat, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk memastikan penyebabnya, termasuk kemungkinan munculnya virus varian baru.

Namun demikian, Heroe tidak menampik jika kondisi Kota Yogyakarta dalam dua pekan sebelum terjadi lonjakan kasus cukup padat dengan banyaknya wisatawan, yaitu saat libur panjang akhir Mei hingga awal Juni.

“Kondisi seperti saat ini merupakan pengulangan keadaan saat kasus di Yogyakarta juga meningkat usai libur panjang akhir Tahun 2020,” katanya.

Oleh karenanya, lanjut Heroe, jika masyarakat berkeinginan kondisi perekonomian kembali membaik dan kasus menurun, maka satu-satunya jalan adalah kompak disiplin menerapkan PPKM mikro secara ketat.

“Tidak boleh ada celah sedikit pun dalam menerapkan protokol kesehatan. Wisatawan masih bisa datang, tetapi saat berada di Yogyakarta juga harus patuh protokol kesehatan, termasuk menunjukkan dokumen kesehatan,” katanya.

Jika protokol kesehatan dilonggarkan sedikit saja, katanya, maka yang terjadi adalah meningkatnya kasus COVID-19. “Makanya, kalau masyarkat ingin Yogyakarta dalam kondisi aman, ya semuanya harus menjaga Kota Yogyakarta dengan disiplin protokol kesehatan,” katanya.

Meskipun terjadi peningkatan kasus yang cukup signifikan, namun Heroe mengatakan, tidak ada peningkatan jumlah kematian pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Rerata kematian sebelum terjadi lonjakan kasus adalah 40 orang per pekan dan saat ini kondisinya hampir sama.

Sebagian besar kasus terkonfirmasi positif dalam dua pekan terakhir adalah pasien tanpa gejala, sehingga peningkatan kebutuhan layanan selter atau isolasi mandiri justru lebih banyak dibanding kebutuhan layanan di rumah sakit.

Namun demikian, penambahan kapasitas tempat tidur di rumah sakit untuk perawatan pasien COVID-19 tetap dilakukan, yaitu 87 kamar di tujuh rumah sakit yang melayani penanganan COVID-19 sesuai hasil koordinasi dengan rumah sakit. “Hal ini disebabkan rumah sakit di Yogyakarta menjadi rujukan dari kabupaten lain. Yang dirawat tidak hanya warga Kota Yogyakarta saja, tetapi juga pasien dari kabupaten lain,” katanya.

Pada Kamis (24/6) tercatat tambahan 186 kasus terkonfirmasi COVID-19 di Yogyakarta, dengan 42 pasien sembuh atau selesai menjalani isolasi, dan dua pasien meninggal dunia. Dengan demikian, total kasus aktif di Kota Yogyakarta tercatat 1.169 dengan 1.167 pasien menjalani isolasi dan dua rawat inap di rumah sakit.(lin/smol/ant)

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA