Minggu, 25 Juli 2021

Bersahabat dengan Trauma dalam Hadapi Pandemi

Oleh: Dwi Widiyastuti, M.Pd,*)

SMOL.ID – Trauma melanda setiap orang, saat ini. Pandemi Covid-19 yang terus tak kunjung reda dan jumlah korban yang semakin banyak. Perasaan takut, gelisah, dan was-was menghantui semua masyarakat.

Kondisi ini tentu tidak baik bagi kesehatan. Penyebaran virus yang begitu cepat dan masif tak dapat dikendalikan.

Varian viruspun ternyata berkembang pesat dari alpha, beta, delta, hingga kappa.Tak dapat dihindari jumlah meninggal dunia melonjak pesat. Hal ini tentu menimbulkan trauma yang mendalam.

Adakah yang ingin bersahabat dengan trauma? Semua orang tidak ingin mengalami trauma. Dengan jumlah meninggal 68.219 (data per 11 Juli, JHU CSSE COVID 19 Data dan Our World in Data).

Ini tidak hanya sekedar angka. Puluhan ribu nyawa melayang adalah realita. Mulai dari Nakes, tokoh masyarat, ulama, guru, dan masyarakat. Begitu banyak air mata dan kesedihan yang dirasakan oleh para penderita. Hal ini menambah penderitaan manakala orang yang kita sayangi tiada karena covid 19.

Secara harfiah, trauma yang dialami para penderita trauma psikis. Mereka mengalami kondisi yang menyebabkan fobia atau ketakutan karena terpapar virus yang mematikan.

Trauma ini menyebabkan goncangan jiwa. Pasien yang pernah pernah terpapar virus merasakan betapa sulit lepas dari penderitaan. Terlebih melihat orang yang ada di sekitar kita tak terselamatkan. Peristiwa yang dirasakan mungkin tidak bisa hilang dalam sekejap.

Keluarga korban yang meninggal lebih dalam merasa trauma. Virus yang katanya bisa disembuhkan hanya memperkuat imun ternyata bisa menghilangkan nyawa. Anggota keluarga yang lain pasti merasakan trauma yang tak kalah hebat.

Peristiwa tersebut tidak akan hilang dengan begitu saja. Sekarang, mendengar orang terpapar Covid 19 pasti akan merasaan betapa takut untuk mendekati. Terlebih lagi apabila mendengar orang terdekat, tetangga, atau rekan kerja meninggal untuk selamanya.

Banyak sekali saat ini masyarakat yang mengalami trauma. Namun, bukan berarti tidak bisa disembuhkan.

Menurut Nelden Jakaba, pengurus Divisi Riset dan Pengembangan Yayasan Pulih, yang menanggani korban penderita trauma psikologis dalam kasus bom JW Marriot, menerangkan tiap orang pada dasarnya punya mekanisme alamiah untuk menghadapi kondisi trauma, tentu dengan kadar yang berbeda.

Tidak semua penderita Covid 19 mengalami trauma yang berkepanjangan. Setiap orang mempunyai resistensi tersendiri terhadap pengalaman yang dialami. Pengalaman itu bisa disikapi tergantung dari pengalaman sebelumnya dan bagaimana mereka mendapat support dari lingkungan sekitar. Orang-orang yang peduli sangat dibutuhkan dalam kondisi ini.

Keadaan yang begitu mencekam dan banyaknya korban berjatuhan memberi isyarat betapa rawannya akan kondisi peristiwa traumatik. Menghindar dari trauma dengan tidak berupaya sembuh juga bukan hal mudah.

Apalagi mendengar isolasi yang tidak boleh terjamah dengan orang lain. Kondisi yang sulit untuk dipratikkan. Namun, kita harus bisa dengan berupaya tetap menjaga kesehatan, makan makanan bergizi, memakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun, dan kurangi aktivitas di luar.

Kasih sayang obat ampuh sembuhkan trauma. Jika ada yang mengalami trauma dengan virus covid 19 dan menjadi penderita. Bangkitlah dan kembali semangat menjalani hidup sehat sesuai denga protokol kesehatan. Kita tidak sendiri, mintalah bantuan orang lain atau orang terdekat untuk bisa keluar dari penderitaan.

Meskipun tidak bisa bertatap muka. Pandang kepedulian dan perhatian mereka sebagai bentuk kasih sayang, bukan karena sekedar kasihan. Kasih sayang dan kepedulian kita yang tulus sangat mereka butuhkan. Tidak selalu dalam bentuk materi. Keadaan memaksa kita melakukan kasih sayang melalui chat whatsApp untuk saat ini. Sekedar ngobrol dan mengetahui kondisi mungkin bisa meringankan beban dan menghibur.

Kekuatan doa kunci utama kesembuhan. Ikhtiar untuk sembuh bisa didapat dari obat, dan kesenangan hati. Hati yang senang dan nyaman akan lebih memacu kesembuhan.

Imun yang dibutuhkan tidak hanya makanan bergizi. Point terpenting dalam hal ini adalah ikhtiar lahir dan batin. Doa sebagai senjata pamungkas ikut ambil bagian. (aa/smol)

*)Penulis: Dwi Widiyastuti, M.Pd Pendidik di MTs Negeri 2 Banjarnegara

TERKAIT

3 KOMENTAR

  1. Yach…hanya satu jalan yang bisa kita tempuh yaitu Ihtiyar,jaga kesehatan melaui prokes pakai masker,jaga jarak jangan berkerumun,percaya diri,makan makanan bergisi dan jangan lupa berdo’a berdzikir yang banyak pada Alloh pasti kita dijauhkan dari penyakit dan dapat kebahagian dunia akherat🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA