Minggu, 25 Juli 2021

JCW: Yang Dibutuhkan Rakyat Jogja Bantuan Bukan Teori

Baharuddin Kamba. (Foto : Smol.id/Dok)

SMOL.ID-YOGYAKARTA – Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba mengatakan, dengan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada rakyat Yogyakarta yang saat ini sedang berjuang menyambung hidupnya, apakah paham disuguhi dengan teori-teori seperti yang disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menurut Baharuddin Kamba, rakyat Yogyakarta saat ini yang diperlukan adalah bagaimana segera mendapatkan bantuan supaya dapat menyambung hidup ditengah kesulitan yang semakin sulit dan mencekik leher ini. Bukan teori seperti yang disampaikan filsuf Romawi kuno.

Baharuddin Kamba, aktivis JCW menanggapi Sapa Aruh dan Maklumat Rakyat “YOGYA SATU, BANGKIT BERSAMA ” dalam rilisnya Rabu (21/7) petang. Menurutnya, isi pidato Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dinilai cukup panjang;

Dalam catatannya, pidato Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buqono X ada tiga kutipan. Pertama, yang diucapkan oleh filsuf Romawi Kuno, Cicero, lebih dari 20 abad yang lalu. Kedua, guru besar dari Harvard, Michael Porter, dan Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee.

”Mohon maaf dengan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada rakyat Jogja yang saat ini sedang berjuang menyambung hidupnya, apakah paham disuguhi dengan teori-teori seperti itu? Rakyat Jogja itu kan perlu bagaimana segera mendapatkan bantuan, agar dapat menyambung hidup ditengah kesulitan yang semakin sulit,” katanya.

Pertanyannya, apakah sudah menerapkan secara maksimal dan optimal teori dari filsuf Romawi Kuno, Cicero tentang “Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi?” Jika memang sudah dilakukan, kenapa serapan dari APDB DIY masih terbilang masih rendah? Padahal, anggarannya ada dan tercukupi.

Tapi kenapa justru membangun pagar di Alun – alun Utara Yogyakarta dengan anggaran Rp. 2,3 miliar yang bersumber dari Dana Keistimewaan atau Danais? Sementara ada masyarakat sulit mendapatkan layanan kesehatan hingga ada yang meninggal dunia diparkiran dan ada pula yang meninggal dunia di kursi tunggu antrean layanan pada salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta.

”Belum lagi masyarakat DIY yang terdampak ekonomi dari pandemi Covid -19 ini,” ujar Baharuddin Kamba, aktivis yang rajin menyoroti ketimpangan di Yogyakarta.

Menurutnya, masyarakat DIY akan menunggu dan mengawal realisasi Sapa Aruh dan Maklumat Rakyat Jogja ini. Lebih cepat lebih baik. Jangan kelamaan. Apalagi menunggu korban meninggal dunia semakin banyak yang berjatuhan baru ada realisasi. (rp/aa/smol.id)

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA