Minggu, 25 Juli 2021

Menjadikan-Nya Bermakna dalam Shalat

Oleh: Bagas Pratomo*)

SMOL.ID – Menjadikan Allah bermakna dalam shalat kita berarti kita memahami betul kepada siapa kita sedang menghadap. Memahami betul apa yang kita ucapkan. Merasakan makna tiap gerakan shalat.

Hati mengagungkan ketika memuji. Hati butuh ketika meminta. Hati penuh harap ketika berdoa. Hati bersungguh-sungguh ketika berjanji. Merasakan ketaatan ketika rukuk dan merasakan penghambaan ketika sujud.

Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mendekati shalat sementara kalian dalam keadaan mabuk hingga kalian mengetahui apa yang kalian ucapkan” (QS al-Nisa: 43).

Ada orang-orang yang sebenarnya tidak mabuk, namun mereka melakukan shalat dalam kondisi yang lebih buruk daripada mereka yang mabuk. Mereka tidak mengetahui apa yang mereka ucapkan.

Padahal Allah tidak memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat, tetapi mendirikan shalat. Sangat jauh perbedaan kedua pengertian itu. Melaksanakan shalat berarti mengerjakannya. Dengan mengucapkan Allahu Akbar, engkau sudah berada dalam kondisi shalat, meskipun engkau lalai dan alpa.

Sementara, mendirikan shalat artinya menyempurnakan dan membaguskannya. Seperti ucapan “mendirikan rumah”, yang berarti membaguskannya, menyempurnakan, dan menghiasnya.

Jadi berdirilah di hadapan Allah dengan menegakkan shalat, bukan sekadar mengerjakan shalat. Karena tidak setiap orang yang shalat mendirikan shalat. Tetapi, setiap orang yang mendirikan shalat berarti telah melaksanakan shalat.

Bagaimana caranya? Jadikan bacaan dan gerakan shalat menjadi sarana komunikasi dengan-Nya. Untuk mampu berkomunikasi, engkau harus memahami dan merasakan bacaan dan gerakannya.

Untuk memahami bacaan engkau harus mengerti yang dibaca. Untuk mengerti yang dibaca, engkau harus tahu artinya. Berarti engkau harus tahu terjemahan surat yang dibaca. Maka belajarlah lagi tentang arti bacaan dalam shalat. Mengertilah terjemahan surat surat yang dibaca dalam shalat.

Kalau sudah tahu terjemahannya, maka engkau akan lebih mengerti yang dibaca. Karena mengerti, maka akan lebih mudah memahami bacaan dan kemudian merasakannya. Fase selanjutnya, engkau akan menjadikan bacaan yang engkau pahami sebagai alat berkomunikasi dengan-Nya.

Baca al-Fatekah, dengan tiga ayat pertama engkau menyampaikan pujianmu kepada-Nya. Ayat keempat engkau menyampaikan janjimu kepada-Nya. Ayat selanjutnya engkau berharap dengan permintaanmu. Saat rukuk engkau menyampaikan ketaatan. Saat sujud engkau merasakan penghambaan.

Jadi ketika selesai shalat, kita berharap tercatat sebagai orang yang mendirikan shalat. Dan, hati kita tetap membawa-Nya sebagai makna dalam kehidupan sehari-hari

Semoga kita tidak menjadi seperti yang dikatakan Nabi SAW, “Seseorang shalat tetapi yang dituliskan untuknya hanya sepertiganya, atau seperempatnya, atau seperenamnya, atau seperdelapannya atau sepersepuluhnya”.

Nabi juga bersabda, “Yang menjadi bagian seorang hamba dari shalatnya hanya apa yang ia pahami”.

Itulah sebabnya ada yang tidak mendapat apa apa dari shalatnya. Betul bahwa kewajiban telah dijalankan, tetapi tidak ada pahala untuk mereka. Rugi kan? (a/smol)
*)Bagas Pratomo, pimred smol.id

TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

LAINNYA